Cara Membuat Cerpen Mudah untuk Pemula

Cara Membuat Cerpen Mudah untuk Pemula

Cerpen merupakan kepanjangan dari cerita pendek. Cerpen adalah kisah cerita yang berisi mulai dari 5000 kata dan tidak lebih dari 10.000 kata. Cerpen pada umumnya berfokus dan berkonsentrasi pada satu peristiwa kejadian dan hanya mengisahkan satu tokoh cerita saja. Cerpen juga disebut sebagai karangan pendek yang di mana kisah ceritanya ditulis secara fiksi dan fantasi.

Mengarang itu mudah. Sekilas memang terlihat gampang. Tapi, setelah memulai untuk menuliskannya, seringkali seorang penulis lupa untuk melanjutkan karangannya. Bahkan, mengalami kebingungan saat ingin mengakhirinya. Solusinya, perbanyak membaca dan jangan berhenti untuk terus belajar agar tetap mampu menciptakan sebuah cerita yang utuh. -Tri Ayu Andani Nasution-


Sebelum membuat cerpen, ada beberapa hal yang harus dipahami. Mulai dari menentukan tema, cara membuka bab awal, menentukan karakter tokoh, alur setting dan plot, menciptakan konflik, hingga ending. Semuanya punya cara tersendiri dalam menyelesaikannya. Kali ini, Pojokata akan membagikan cara membuat cerpen mudah untuk pemula. Nah, buat kamu yang ingin langsung tahu caranya, silakan simak poin-poin di bawah ini ya.


1. Tentukan Tema

Tema merupakan salah satu unsur penting dalam membuat cerpen. Tak dapat dipungkiri, salah satu landasan seseorang menulis cerpen adalah tema. Menentukan tema sebelum menulis bisa memudahkan kita untuk mengembangkan ide cerita. Tema itu ibarat "jembatan" cerita yang membuat kita bisa fokus pada topik yang akan ditulis. Hal yang perlu diingat bahwa cerpen yang baik yaitu cerpen yang hanya mengangkat satu tema saja.

Sebelum menentukan tema cerpen, kita harus bisa menggabungkan beberapa hal seperti cerita, pikiran dan perasaan. Kita harus bisa memikirkan kisah seperti apa yang mau dituliskan dan kisah itu harus berpatokan pada tema yang mau diangkat. Misalnya, tema tentang pendidikan, sosial, budaya, politik, ekonomi, percintaan, persahabatan, dan lain-lain. 

Tema ini biasanya sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Namun, hal itu bukan berarti bahwa kita tidak bisa mengangkat tema lain yang mengangkat tentang kehidupan yang tak biasa seperti kehidupan seputar luar angkasa pada cerita-cerita fiksi. Tak ada tolak ukur tema mana yang paling baik untuk dituliskan. Semua kembali pada minat dan kemampuan kita dalam menuliskannya.

Contoh sederhana, misalnya kita sangat menyenangi tema pendidikan. Namun, ketika hendak menuliskan ceritanya, kita terinsipirasi kisah kesuksesan hidup orang lain yang bisa maju lewat kegigihannya dalam berpolitik. Sah-sah saja untuk menuliskan kisah dari cerita orang lain. Tapi, yang perlu diingat bahwa sebelum terjun ke tema yang belum kita kuasai, sebaiknya cari tahu dulu tentang tema tersebut. Perbanyak membaca tulisan-tulisan yang mengangkat tentang dunia politik.

Jangan sampai ketika sudah mulai menulis, kita malah mencampurkan beberapa tema dalam sebuah cerpen. Misalnya, mencampurkan tema politik, ekonomi, dan sosial dalam satu waktu. Hal-hal seperti ini sangat perlu dihindari. Tema yang terlalu banyak bisa membuat kisah dalam cerpen melebar ke mana-mana. Bukan hanya penulis yang kebingungan untuk melanjutkan karangannya. Tapi, para pembaca cerpen juga akan pusing menangkap pesan yang ada dalam cerpen tersebut.

Sebagai penulis cerpen pemula, ada baiknya kita mulai menuliskan kisah dengan tema yang sudah kita kuasai. Tulislah tema yang menjadi minatmu. Semakin kamu menguasai tema yang akan kamu angkat, tentunya kamu akan lebih mudah dalam mengembangkan cerita yang ada. Hal ini bisa membuat kamu bisa segera menyelesaikan tulisan, bahkan mungkin memacu kamu untuk menciptakan karya-karya lainnya.


2. Membuka Bab Awal

Robert Stanton pernah berkata bahwa cerpen dapat dibaca dengan sekali duduk. Itu artinya, cerpen memiliki keunikan tersendiri. Lalu, Edgar Allan Poe yang merupakan seorang kritikus sekaligus penulis mengatakan satu kalimat dalam sebuah ulasan tentang cerita pendek bahwa "Jika kalimat pertama yang dituliskan seorang pengarang sengaja dibuat tidak menimbulkan efek, sama saja ia telah jatuh pada langkah pertama."

Hal tersebut berarti bahwa dengan wadah yang terbatas, penulis cerpen harus bisa memanfaatkan kemampuan dalam mengolah diksi dengan menggunakan kata-kata yang ditulis. Untuk itu, penulis harus mampu menciptakan pembukaan cerpen yang mampu menarik para pembaca untuk melanjutkan bacaannya.

Ketertarikan pembaca pada bab awal bisa memunculkan rasa penasaran untuk terus membaca hingga akhir tulisan. Pembukaan cerpen yang baik ditandai dengan penggunaan bahasa yang menarik, dirangkai dengan inovatif, tidak klise, dan tentunya disampaikan dengan kalimat-kalimat yang mudah dimengerti pembaca.

Paragraf awal menjadi penentu bagi keberhasilan sebuah cerpen. Ibarat pertemuan dengan seseorang yang sedang diajak PDKT, paragraf awal menjadi penentu apakah sang doi mau lanjut denganmu atau tidak. Begitupun dengan cerpen, kesan pertama sangat memberi arti. Munculkan kesan-kesan terbaik di awal paragraf agar ia senantiasa penasaran dan mau membacanya hingga tuntas dengan segera mungkin.

Jika penulis tidak mampu menerapkan hal demikian, pembaca bisa saja mengakhiri bacaannya karena sudah bosan duluan. Maka dari itu, penulis cerpen dituntut untuk bisa membuat paragraf awal yang unik dan menarik.


3. Tentukan Karakter Tokoh

Pernah menonton kartun Upin & Ipin? Kalau jawabannya iya, itu artinya kamu sudah paham bagaimana karakter Upin & Ipin sebagai saudara kembar yang sangat menyukai ayam goreng dan senang mengeluarkan kata, "Betul, Betul, Betul..." atau Mail yang senang melontarkan kata, "Itu je lah yang kau tahu..." dan kata, "Dua singgit, dua singgit." Karakter tersebut sudah menjadi ciri khasnya dalam film dan kata-kata itu sudah melekat dalam diri tokoh. Hal tersebut tidak jauh berbeda dengan karakter tokoh yang ada dalam cerpen.

Jika ada tokoh, maka ada karakter. Karakter ini lah membentuk ciri khas yang menonjol di dalam cerita. Semakin menonjol karakter yang ditampilkan dalam cerpen, maka cerpen yang ditulis tentunya akan semakin dikenali. Ketika para pembaca meniru karakter tokoh, entah melalui sifat, perilaku, gaya bicara, atau bahasanya, maka para pendengar akan penasaran dengan apa yang sudah dibacanya.

Hal ini lah yang memacu lebih banyak lagi para pembaca yang ingin menikmati hasil karya penulis. Sehingga, tak heran jika ada banyak cerita sambungan yang bisa dilanjutkan penulis pada part selanjutnya. Ciptkan karakter tokoh yang unik, menari, mudah diingat, dan tak bisa lepas dari ingatan pembaca. 

Jika kamu mampu menyematkan karakter tokoh yang bisa memotivasi orang lain untuk menjadi pribadi positif dan enerjik seperti tokoh pada karakter di cerpenmu, artinya kamu sudah mampu membangun salah satu unsur penting dalam cerpenmu yakni karakter tokoh.

Ada beberapa jenis tokoh yang bisa kamu jadikan referensi sebelum membuat cerpen, diantaranya:

a. Protagonis

Tokoh ini memiliki karakter yang baik. Biasanya, tokoh protagonis ini dipilih penulis menjadi tokoh utama dalam cerpen.

b. Antagonis

Tokoh ini memiliki karakter yang buruk dan perbuatan maupun sikapnya bertentangan dengan tokoh protagonis. Biasanya, tokoh anatagonis dihadirkan sebagai orang yang mampu menimbulkan konflik dalam cerpen.

c. Skeptic

Tokoh ini memiliki karakter yang senang memusuhi tokoh-tokoh dengan karakter yang baik. Tokoh skeptic ini menjadi tokoh pendukung yang mampu memunculkan pelengkap konflik. Ia bisa menghidupkan jalan cerita agar tidak terkesan biasa-biasa saja atau datar.

d. Sidekick

Tokoh ini memiliki karakter yang dihadirkan sebagai penyeimbang dari kehadiran tokoh skeptic. Tokoh sidekick ini menjadi tokoh pendukung dari tokoh protagonis. Sedangkan kalau tokoh skeptic menjadi tokoh pendukung antangonis.


4. Atur Setting dan Plot

Ketika menulis cerpen, kamu akan menemukan sebuah "kehidupan" yang di dalamnya mengisahkan tokoh dan permasalahannya. Tidak mungkin dalam sebuah cerpen tidak ada tokoh dan persoalannya. Kehidupan dalam cerpen yang kisahnya mungkin saja terjadi. Dengan begitu, fiksi yang diciptakan penulis menjadi sebuah cerpen, di samping memerlukan kehadiran tokoh, cerita, dan plot juga butuh latar maupun setting.

Setting adalah gambaran tempat, hubungan waktu, maupun lingkungan sosial tempat munculnya peristiwa-peristiwa yang sedang dikisahkan dalam cerpen. Latar mampu memberikan garis pijakan cerita secara jelas.

Tentunya, hal ini bisa memberikan nuansa realistis untuk para pembaca.  Mewujudkan suasana tertentu yang ketika dibaca mampu membuat pembaca terbawa pada suasana di dalam cerpen tersebut. Para pembaca seakan merasakan pengalaman sungguhan. Seakan itu semua benar-benar terjadi.

Seorang penulis cerpen dituntut untuk mampu mengisahkan latar cerpen dengan baik. Buatlah alur setting dan plot yang bisa membuat cerpenmu seolah-olah nyata dan benar terjadi. Bawa para pembaca berada pada suasana yang ada dalam kisah tersebut. 

Pada saat membuat latar, latar yang ditulis tidak harus dikisahkan secara mendetail. Nrasi latar yang kamu kembangkan harus mudah dimengerti oleh para pembaca. Tak ada batasan yang bisa mengurangi imajinasi penulis untuk menggambarkan ceritanya. Bahkan, meski terbatas oleh ruang sekalipun. Gunakan kalimat-kalimat singkat, namun padat agar ruang yang terbatas untuk menulis ini bisa cukup.

Keberhasilan sebuah cerpen bergantung pada kemahiran penulis dalam menggambarkan latar dengan baik. Sehingga, kata-kata yang digunakan dalam cerpen, bisa diubah menjadi imajinasi yang menarik bagi pembaca. 

Bahkan, tak jarang imajinasi anatar satu pembaca dengan pembaca yang lain tidak jauh berbeda. Hal ini menjadi ketertarikan sendiri bagi pembaca yang sudah tidak sabar untuk mengilustrasikan cerpen menjadi karya yang lebih menarik lagi kedepannya. Misalnya diadaptasi menjadi sebuah film. Kita bisa berkaca pada penulis terkenal seperti Dwitasari dan Eka Kurniawan yang mampu mentransformasikan cerpen menjadi karya film. Tentunya, ini akan membuat penulis dan pembaca menjadi terasa semakin dekat lewat imajinasi dari cerpen yang dibuat oleh penulis.


5. Ciptakan Konflik

Konflik adalah kejadian yang sangat penting. Di bagian ini, penulis harus mempunyai kepiawaian dalam memilih dan membangun konflik melalui beragam peristiwa, baik melalui tindakan maupun kejadian dan hal ini tentu menjadi penentu menarik atau tidaknya cerita yang dihasilkan. 

Bahkan, hal yang sebenarnya dihadapi pembaca ketika membaca narasi cerita adalah peristiwa-peristiwa konflik, konflik yang semakin memuncak, klimaks, hingga akhirnya akhir dari penyelesaian cerita.

Konflik merupakan hal-hal yang bersifat tidak menyenangkan yang terjadi atau dialami para tokoh dalam cerpen. Konflik lebih condong pada sesuatu yang negatif dan tidak disukai pembaca tapi mampu memacu rasa penasaran untuk melanjutkan bacaannya. 

Ciptakan konflik cerita yang logis atau masuk akal, sehingga pembaca tidak merasa aneh atau janggal pada cerita yang dibaca. Buatlah konflik yang jika ditarik ke belakang, maka akan terus nyambung. Jangan membuat konflik yang tidak masuk akal karena ini akan membuat pembaca bingung dan bosan pada saat membaca cerpenmu.

Buatlah konflik yang beda dari biasanya sehingga pembaca akan terus penasaran membacanya hingga konflik mampu terselesaikan. Pembaca akan selalu menebak hal-hal yang akan terjadi berikutnya. Ajaklah pembaca seperti detektif yang selalu mencari tahu jalan cerita selanjutnya. Kemudian, buat tebakan mereka salah. 

Cerpen yang menarik merupakan cerpen yang alur ceritanya tidak mudah ditebak pembaca. Jika konflik yang diciptakan sudah terlalu mainstream atau seperti cerpen pada umumnya, cerpen yang kamu buat tentu tidak berkesan apa-apa di mata pembaca. Untuk itu, usahakan konflik dibuat dengan permasalahan yang tidak biasa.


6. Ending

Ending adalah penutup suatu cerita atau akhir dari sebuah cerita. Bukan hanya pembuka cerpen saja yang dibuat semenarik mungkin, tapi juga ending cerpen. Buatlah ending cerpen yang bagus dan berkesan. Hal yang paling sering menjadi permasalahan dalam mebuat cerpen yakni kesulitan dalam mengakhiri tulisan.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan penulis dalam mengakhiri tulisannya. Diantaranya dengan meutup akhir cerita lewat kisah yang bahagia ataupun sedih. Tak hanya itu, ending dari cerpen juga bisa ditulis dengan perasaan optimisme dari tokoh utamanya, meskipun sudah gagal dalam meraih cita dan impiannya. 

Usahakan membuat ending dengan pilihan cerita yang pas dan sesuai dengan cerita dari awal hingga pertengahan kisah yang sudah dibuat. Buatlah ending yang memuaskan, fokus, dan membentuk keutuhan cerita. Usahakan ending digambarkan dengan cara yang unik dan tidak terduga. Sehingga, pembaca tidak menyangka bahwa alur yang mereka terka-terka berakhir sedemikian rupa. Hal ini lah yang mampu membuat cerita sangat berkesan di hati pembaca. 

Ending cerpen yang tidak terduga membuat cerpen buatanmu memiliki nilai lebih bagi para pembaca. Ending cerpen yang baik adalah cerita yang diakhiri dengan penuh dramatis dan mampu menguras emosi pembaca. Sehingga, tak jarang pembaca akan menangis setelah menutup bacaannya. Ada pula yang tertawa dan turut bahagia setelah membaca cerpen tersebut. Ending cerpen sangat menentukan menarik atau tidaknya sebuah cerpen.


Contoh Cerpen

Berikut ini contoh cerpen yang pernah penulis menangkan dalam lomba menulis cerpen yang diadakan oleh Bank Indonesia. Kamu bisa jadikan cerpen di bawah ini sebagai contoh dalam membuat cerpen untuk keperluan lomba ataupun tugas sekolah. Tapi sebelum itu, cerpen di bawah ini tidak untuk di-copas ya. Dilarang untuk meng-copy sebagian ataupun seluruh isi cerpen berjudul Bibliothek ini. Nah, kalau kamu sudah paham, simak cerpennya di bawah ini ya sobat Pojokata.


Bibliothek

Karya: Tri Ayu Andani Nasution

Suara burung-burung bersahut-sahutan dari atap rumah. Similir angin juga ikut terdengar di telinga. Aku berdiri di depan pintu rumah sembari memegang kedua ember. Satunya di tangan kanan dan satunya lagi di tangan kiri. Kutengadahkan dagu mengarah ke atas awan. Langit terlihat sangat gelap, pertanda mendung.

“Bu… Bu…” Aku terus memanggil Ibu dari kamar tapi tidak ada suara balasan apapun.

Mustahil rasanya bila Ibu tidak mendengar suaraku. Rumah kami hanya berbataskan anyaman bambu dengan tiang kayu di setiap sudutnya. Dinding dari anyaman bambu ini tidak sebaik tembok batu dalam mengedap suara. Sehingga, meskipun aku memanggil Ibu dari teras rumah, biasanya Ibu akan mendengarnya walau di dalam kamar sekalipun.

Kuangkat telapak tanganku untuk memastikan apakah hujan mulai turun atau tidak. Setetes air langit telah menyentuh jari manisku. Aku berlari sekencang-kencangnya menuruni bukit. Lalu, berbelok melewati hutan. Maklum, rumahku berada di balik bukit. Sehingga, jalanan akan tampak tidak rata. Jalan-jalan ini adalah rute yang selalu aku lewati agar bisa sampai lebih awal. Kalau tidak melewati hutan ini, pasti aku akan sampai lebih lama. 

Suara debur air yang kencang menandakan bahwa aku sudah sampai di Air Terjun. Gegas kuisi kedua ember ini dengan air. Tak lupa pula untuk mandi. Segerombolan anak berseragam merah putih melintas di depanku. Mereka tampak tertawa riang dari atas sepeda. 

“Timbo, kami duluan ya…” sahut teman-teman sekolahku dengan serempak.

Aku membalasnya dengan lambaian dari kedua tanganku. Aku harus bergegas membawa air-air yang sudah terisi ini ke rumah. Aku terus berlari dengan kekuatan yang aku miliki. Rute yang kujalani semakin terasa berat karena harus menaiki bukit. Setelah menghabiskan waktu selama 45 menit, akhirnya Aku sampai di rumah.

Seperti biasa, Ibu pulang lebih dulu dan membakar kayu-kayu yang diambilnya di hutan untuk dibuat arang. Ibu duduk di depan perapian kayu beralaskan tanah, ia bersiap untuk memasak air yang kuambil dari sungai tadi. 

“Bu, Timbo pergi dulu ya…” kusalam tangan Ibu.

“Nasinya sudah dimakan kan nak?” pertanyaan wajib yang selalu Ibu tanyakan sebelum aku berangkat ke sekolah. Tangannya selalu menggenggam kedua tanganku yang berkulit sawo matang itu. Ia juga mengelus rambut keritingku sambil memeluk erat tubuhku. Begitulah kebiasaan Ibu ketika Aku akan pergi sekolah.

“Sudah bu…” ucapku sambil menengadahkan kepalaku ke atas, sebab tinggi badanku hanya sebatas bahunya. Aku berpamitan lalu bergegas lari.

Aku berjalan menuruni bukit, jalan bebatuan, hingga hutan. Meskipun rutenya terlihat sama seperti waktu Aku mengambil air, namun jalan ke sekolahku berbeda arah dengan Air Terjun tadi. Jalan menuju ke sekolah harus melewati jalan setapak. Di sebelah kiri ada hutan dan di sebelah kanan ada jurang. Aku harus berhati-hati agar tidak tergelincir. Sebab, tadi malam baru saja hujan sehingga menyebabkan jalanan becek dan berlumpur.

Sandal yang kupakai terpaksa dibuka agar tidak rusak. Tidak seperti teman-teman lain yang mengenakan sepatu sekolah, Aku hanya punya sandal swallow yang kukenakan untuk bersekolah. Satu-satunya sandal yang aku punya. Aku lebih memilih pergi ke manapun tanpa alas kaki agar sandal ini bisa awet untuk dipakai ke sekolah. 

Aku memang harus melewati jalan setapak ini. Sebab, jalan ini adalah satu-satunya akses menuju sekolahku. Maklum, rumahku sangat jauh dari sekolah. Jika tidak melewati jalan ini, maka aku harus putar balik dan itu memakan waktu yang cukup lama. Kugenggam kayu yang aku pegang dengan sangat kuat sambil terus berdoa agar bisa selamat sampai ke tujuan. Setelah melewati jalan ini, aku terus berlari menuju sekolah.

*gedebug

Kakiku tersandung batu-batu di jalan. Lututku berdarah, tanganku terluka karena goresan batu bata. Sakit sekali tetapi rasa sakit itu tidak kuhiraukan. Aku berusaha untuk berdiri dan tetap berjalan meskipun pelan. Sebenarnya Aku ingin menangis, tapi Aku ingat sebuah pesan dari Ayahku dulu sewaktu ia masih hidup bahwa laki-laki itu harus kuat dan tidak mudah cengeng. Untuk itu, Aku harus tetap semangat. Walau, sandal yang kukenakan ikut lepas. Kucari kawat untuk mengikat sandalku ini. Ini sandalku satu-satunya. Jika tak kuperbaiki, maka tak akan ada sandal yang bisa aku pakai ke sekolah.

Tak berapa lama, sampailah Aku di sekolah tercinta. Tidak terasa, Aku telah menghabiskan waktu 2 jam untuk sampai ke sekolah. Tempat yang paling aku senangi di sekolah adalah perpustakaan. Di sini ada banyak buku pelajaran, dongeng, dan buku-buku lainnya yang bisa Aku baca dengan bebas. Hanya buku yang bisa membuat Aku betah berlama-lama di sekolah karena aku sangat senang membaca.

Setiap pulang sekolah, aku singgah ke bukit di dekat danau untuk menggembala kerbau. Aku menggantikan Ibu menggembala kerbau milik tetangga. Kulihat, ibu sangat lelah dengan pekerjaannya dalam membuat dan mengantar arang ke pasar. Ibu juga punya penyakit asma. Jadi, Aku tidak tega melihat Ibu bekerja lagi untuk menggembala kerbau-kerbau ini.

Bagiku, membantu Ibu adalah tugas yang menyenangkan. Aku bisa sambil bermain dengan kerbau-kerbau ini. Ditambah lagi, kalau kerbaunya sedang asyik makan rumput, Aku bisa membaca buku-buku yang sudah Aku pinjam dari perpustakaan. Aku paling sering membaca buku Bahasa Inggris. Bahkan, setiap kali menggembala kerbau, Aku mempraktikkan Bahasa Inggris pada kerbau-kerbau ini. Seolah-olah, mereka adalah lawanku dalam berdialog. Ini menjadi hal paling mengasyikkan ketika menggembala kerbau.

***

*6 Tahun kemudian…

“Bu, ini kan hari minggu, Timbo ikut Ibu ke hutan ambil ranting-ranting kayu ya?” tanyaku.

“Boleh, kalau kamu ngerasa engga capek” jawab Ibu.

Aku terus mengikuti langkah demi langkah dari jejak kaki Ibu agar tidak tersesat di hutan. Ibu sudah terbiasa mengambil ranting kayu hutan, sehingga sudah hapal betul jalur-jalur yang ada di sini. Di tengah jalan pulang, nafas Ibu terengah-engah dan tak berapa lama Ibu terkulai jatuh ke tanah. Aku berteriak menari bantuan.

Ibu dibawa ke Puskesmas terdekat. Namun, Tuhan berkehendak lain. Ibu sudah tidak dapat diselamatkan. Nyawanya tidak dapat tertolong. Aku menangis sekenang-kencangnya. Ibu langsung dimakamkan. Dan aku kembali ke rumah.

“Ibu… sama siapa lagi aku bercerita? Bagaimana bisa Aku melangkah dengan kondisi hidup seperti ini? Sekarang aku sendiri tanpa siapa-siapa. Bapak, Ibu, udah pergi duluan ninggalin Aku… sekarang Aku sendirian di sini. Aku gak sanggup Bu… Aku pengen ikut aja kalau kayak gini. Berat sekali rasanya hidup sebatang kara.” jerit batinku. Aku menangis sekenang-kencangnya hingga pagi. Rasanya belum siap untuk menjalani hari-hari dengan kondisi seperti ini.

Hujan turun dengan sangat deras. Biasanya, aku tak peduli pada hujan dan memilih untuk tetap pergi ke sekolah. Tapi, hari ini, semuanya terasa berbeda. Aku sudah tidak memiliki semangat untuk bersekolah. Jadi, aku akan tetap di rumah saja. Mungkin sampai besok, lusa, atau bisa saja hingga satu minggu ke depan.

Tak terasa sudah dua minggu tidak ke sekolah. Semenjak Ibu pergi, Aku sering masuk sekolah dan malas belajar. Kulihat, uang simpananku sudah menipis, Aku terpaksa ke hutan untuk mengambil kayu dan dijadikan arang untuk dijual ke pasar. Aku meneruskan tugas-tugas Ibu. Semua ini kulakukan agar aku bisa bertahan hidup.

“Arang… arangnya pak… arangnya bu…” sahutku pada orang-orang yang melintas di pasar.

Kujajaki lapak orang-orang yang ada di pasar satu-persatu. Tampaknya tidak ada yang mau membeli arangku ini. Tapi, aku tidak menyerah. Aku terus berkeliling dan menawarkan pada orang-orang yang melintas. Semoga ada yang mau membeli arang ini agar aku bisa membeli makan siang.

“Wah, pas sekali. Dari tadi saya nungguin kamu. Berapa semua arang ini?” ucap seseorang yang berada di belakangku.

Kupalingkan badan dan langsung menyodorkan arang-arang ini padanya. Syukur sekali ada rezeki bagus hari ini. Bapak berhati baik ini memborong semua daganganku. Uang ini bisa bertahan hingga 5 hari ke depan.

Aku berjalan mengelilingi pasar, mataku tertuju pada sebuah mobil pick up yang membawa sayur. Tapi, kulihat kursi depan sudah penuh. Jika Aku meminta izin untuk ikut pada supir, pasti ia tidak akan mengizinkannya. Aku berjalan menyelinap ke dalam sayur-sayur. Perlahan-lahan kulangkahkan kakiku agar tidak terdengar oleh supir. 

Setelah dua jam berlalu, aku dibangunkan dengan suara klakson yang sangat berisik. Kuintip suasana diluar mobil lewat terpal yang menutupi kepalaku. Ada banyak mobil yang melintas, mulai dari truk, mobil pribadi, sepeda motor, hingga bus.

“Aku di mana ini?” batinku bertanya sendiri.

Aku mulai panik dan khawatir. Kugigit jari-jariku dan mataku terus melihat ke kanan dan kiri. Berharap menemukan cara agar bisa turun. Aku takut jika mobil ini keluar kota dan nantinya aku tidak bisa pulang. Tiba-tiba mobil berhenti di semuah pasar bernama Pasaraya MMTC, Medan. 

Ini pertama kalinya Aku ke Medan. Selama ini, Aku hanya mendengar namanya dari orang-orang. Aku langsung turun dan mencari lokasi penjual buku. Aku menghabiskan waktu berjam-jam di sini. Aku membaca buku tentang Keluar Negeri dengan Mudah. Ada beragam foto bangunan-bangunan indah, perpustakaan, hingga kampus-kampus keren.

Setelah membaca buku, Aku ingin seperti sosok yang dikisahkan bahwa ia bisa keluar negeri meskipun berasal dari keluarga yang tidak berada alias kurang mampu. Aku jadi semakin yakin bahwa Aku juga bisa mewujudkan mimpiku. Aku mencatat poin-poin penting yang ada di dalam buku ini. Meskipun Aku tidak mampu membeli buku-buku ini, setidaknya Aku bisa mengingat hal-hal penting dari buku lewat catatan kecil.

***

“Timbo…” sahut Bu Tiwi dari depan pintu rumahku.

“Loh, Bu Tiwi? Ada apa Bu? Kok Ibu bisa sampai ke rumah Timbo?” tanyaku penasaran.

“Iya, Ibu khawatir, kenapa kamu engga masuk-masuk sekolah, Bo?” tanya guruku ini,

“Maaf, Bu. Timbo udah engga pernah masuk sekolah lagi. Timbo udah engga semangat mau lanjutin sekolah. Sekarang, Timbo juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup Timbo sehari-hari. Maaf Timbo udah buat Ibu khawatir.” jelasku.

“Kamu harus tetap semangat, Bo. Ibu yakin kamu bisa keluar dari zona seperti ini dengan ilmu yang kamu punya, dengan kemampuan yang kamu miliki, dan dengan semua kerja keras kamu. Hidup bisa berubah kalau kamu sendiri yang punya niat untuk mengubahnya. Percaya bahwa Tuhan engga akan menguji hambanya diluar batas kemampuannya. Kamu anak yang kuat dan hebat. Ibu yakin kamu bisa.” tutur Bu Tiwi.

“Makasih, Bu. Timbo bisa semangat lagi karena semangat dari Ibu. Besok Timbo janji akan ke sekolah lagi.” ucapku.

“Minggu depan sudah ujian akhir, kamu engga boleh males-malesan lagi, loh. Oh iya. Ini ada beasiswa ke Jerman yang bisa kamu coba. Dengan kecerdasan dan kemampuan Bahasa Inggris yang kamu punya, Ibu yakin sekali kamu bisa lolos beasiswa ini. Dicoba ya.” ujar Bu Tiwi sembari menyodorkan kertas beasiswa yang ia tawarkan.

“Sekali lagi, terima kasih banyak, Bu…” tak henti-hentinya kuucapkan terima kasih pada Bu Tiwi.

***

Pengumuman kelulusan telah tiba, Aku membuka satu surat dari amplop cokelat yang berisi pengumuman kelulusan.

“Alhamdulillah…” jeritku sangkin bahagianya melihat hasil pengumuman.

Aku lulus dengan nilai tertinggi dan Aku juga mendapatkan beasiswa kuliah di jurusan Teknik Lingkungan, Technical University of Berlin. Guru-guru dan teman-temanku memberikan selamat. Aku tidak menyangka akan hal ini, sebab baru Aku yang lulus beasiswa di luar negeri dari sekolahku. Aku merasa sangat beruntung karena diberikan kepercayaan untuk melanjutkan Pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. 

Aku bahagia karena bisa membuktikan bahwa siapa saja bisa mengenyam Pendidikan setinggi-tingginya tanpa terkecuali. Selagi mau belajar dengan sungguh-sungguh dan berusaha dengan sebaik-baiknya, jalan pasti selalu ada. Semua karena membaca buku, Aku jadi bisa membuka jendela dunia. Berlin, Jerman adalah kota impianku. Selama ini, Aku hanya bisa melihat sedikit sisinya dari atlas dan dari foto yang ada di buku-buku. Aku akan segera melihat keindahannya dengan mata kepalaku sendiri.

***

  Setelah lulus dengan predikat Cumlaude, Aku kembali ke desaku. Aku membangun desa dengan menciptakan beragam teknologi untuk desa. Aku juga membangun perpustakaan di desa dengan nama Bibliothek. Bibliothek adalah kata dalam Bahasa Jerman yang berarti “Perpustakaan”. Nama ini kugunakan sebagai caraku memperkenalkan Bahasa Jerman kepada orang-orang yang ada di desaku. 

Berharap, mereka juga bisa berkesempatan membuka jendela dunia. Di perpustakaan ini, Aku juga menyediakan smartphone dan komputer untuk orang-orang yang ingin mengakses perpustakaan digital. Selain itu, Aku juga membangun pos-pos kecil yang diisi dengan beragam buku. Jadi, ada banyak Bibliothek dalam jarak beberapa meter. Bukan hanya satu.

Tapi, kulihat ada yang berbeda di desa ini. Orang-orang tidak lagi memegang buku, namun sudah berganti dengan gadget. Anak-anak sekolah tidak melulu harus ke perpustakaan dan membaca buku-buku dalam bentuk fisik.  Dulu, orang-orang yang ingin ke perpustakaan dan mencari buku yang diinginkan bisa memakan waktu yang lama karena dibutuhkan waktu berjam-jam untuk bisa ke perpustakaan sekolah. 

Sekarang, membaca buku bisa dilakukan di mana saja. Bisa di rumah, di pasar, bahkan di jalan raya sekalipun. Semuanya bisa semakin cepat dengan smartphone. Mengakses buku di perpustakaan bisa lewat gadget. Tinggal download aplikasi yang ada di playstore pada gawai atau smartphone saja. Semuanya serba mudah hanya dalam satu genggaman. Selagi ada smartphone, paket internet, dan sinyal yang memungkinkan, maka siapa saja bisa membaca buku di perpustakaan. 

Inilah yang disebut jendela dunia masa kini, Kemudahannya begitu terasa. Terutama, dalam situasi pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, anak-anak sekolah di desaku tetap bisa membaca buku tanpa harus ke sekolah. Mereka juga bisa mengakses perpustakaan digital lewat Bibliothek. Aku senang sekali karena cita-citaku menjadi orang yang bisa bermanfaat untuk desaku sudah terwujud.


Nah, penjelasan di atas sudah cukup menggambarkan tentang cara membuat cerpen mudah untuk pemula. Satu-satunya cara agar kamu bisa membuat cerpen adalah dengan menuliskannya. Buang rasa malasmu dan mulailah menulis. Tulislah sedikit demi sedikit kata, hingga akhirnya menjadi sebuah cerpen karena cerpen yang baik adalah cerpen yang selesai.

Sudah punya gambaran tentang cerpen seperti apa yang akan kamu buat? Yuk, tinggalkan komentar kamu di bawah ya sobat Pojokata! Kamu juga bisa sharing cerpen kamu di kolom komentar. Jangan sungkan-sungkan ya.





Berlangganan update artikel terbaru via email:

14 Responses to "Cara Membuat Cerpen Mudah untuk Pemula"

  1. Makasih banyak sharenya ya!
    Sejak sekolah aku selalu suka menulis cerpen dan sering ikut lombanya. Beberapa berhasil mendapatkan hasil yang baik tapi banyak juga yang gagal. Pas baca ini aku jadi sadar kalo aku nulis cerpen dulu lebih mementingkan apa yang ada di pikiranku saat itu. Aku tidak menentukan dengan dalam seperti apa karakter yang ingin ku tulis, konflik apa yang aku ingin buat semuanya serba spontan dan mungkin ini salah satu penyebab aku sering banget kalah daripada menang.
    Terima kasih lagi nih, jadi dapet panduan bener deh buat bisa nulis cerpen dengan baik

    BalasHapus
  2. Waa keren tipsnya, dikasih contoh juga. Mau tips bikin puisi juga dong Kak. Ditunggu yaa.

    BalasHapus
  3. sangat menarik, cerpen ini dalam membuatnya harus punya imajinasi yang kuat ya kak ? dan apakah cerpen ini bisa dibuat bersambung kk, misal chapter 1,2,dan seterusnya

    BalasHapus
  4. aku bookmark dulu deh, nanti kapan-kapan tak lanjutin lagi bacanya, hehe.

    BalasHapus
  5. Saya kalau disuru bikin cerpen masih belum bisa, terkadang kalau cerita suka lari-lari alurnya, apalagi ini hasil imajinasi, lebih susah lagi, tapi kalau artikel-artikel ilmiah, bisa.. tapi itu semua tergantung kebiasaan dan bahan bacaan yang sering kita baca sih.. hehe

    BalasHapus
  6. Yg paling susah pas buat cerita fiksi yaitu membawakan suatu tema dr sudut pandang yg berbeda..
    Ga ada cara lain selain lbh bnyk membaca n sensitif dg lingkungan sekitar..

    Nice info

    BalasHapus
  7. Sebelumnya saya belum pernah buat cerpen, begitu baca tulisan ini jadi ada gambaran gimana cara buat cerpen. InsyaAllah dipraktikkan. Makasih ilmunya kak.

    BalasHapus
  8. Cocok kak 👍 sampai saat ini cerpen lah masih sy pelajari2 mantap artikelnya jdi buat informasi ke sy

    BalasHapus
  9. dan aku baru belajar membuat cerpen, setelah mengetahui tentang blog. dan sekarang, dapet ilmu dari blog ini. terimakasih kak

    BalasHapus
  10. Niat mau nulis udah lama. Tapi pas mau realisasi susah banget emang

    BalasHapus
  11. Sangat menarik nih Kak, lengkap banget juga. Kebetulan saya lagi belajar nulis cerpen, meskipun baru cerpen anak. Secara unsur sih relatif sama ya Kak hanya kalau cerpen anak menurut saya konfliknya harus bener2 to the point dan harus ada penyelesaiannya (gak nggantung).

    BalasHapus
  12. Saya hobi banget bikin cerpen. Biasanya mengalir gitu saja. Tapi ya gitu, sering alami buntu saat berpikir. Dan memang seharusnya menulis cerpen ada pola wajibnya nice info

    BalasHapus
  13. ini sangat bagus ni kak kebetulan saya lg ad tugas penulisan cerpen ni, trimakasi

    BalasHapus
  14. terima kasih atas informasinya, website kami https://budiluhur.ac.id

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel