Mengendalikan Stres di Masa Pandemi

Oleh : Nurul Alisa Rajriyanti Nst

Kemunculan virus Corona di Indonesia saat ini masih menyisakan beberapa gangguan psikis pada setiap orang yang terkena dampaknya. Sejak diberlakukannya ‘stay at home’ oleh pemerintah, membuat sebagian besar masyarakat takut untuk keluar rumah sehingga stress melanda diri mereka.

Gangguan kecemasan yang paling banyak dialami masyarakat ialah psikosomatis. Gangguan psikosomatis ialah ganggaun pada fisik yang disebabkan oleh tekanan-tekanan emosional dan psikologis sebagai akibat dari aktivitas psikologis yang berlebihan dalam merespon gejala emosi. Contoh sederhana, seseorang yang stress dan khawatir bila dirinya terkena virus tersebut, dirinya merasa demam, batuk, pilek pusing, sakit tenggorokan, padahal tubuhnya menunjukkan suhu normal. Belum tentu jika dirinya terkena paparan virus.

Salah satu reaksi tubuh yang muncul ditengah pandemic yang melanda dunia ini ditandai dengan berita-berita yang terus menerus terkait Covid-19 ini. Rasa cemas dan was-was berlebihan ini akan menyebabkan tubuh bereaksi berlebihan saat kita merespon berita atau kabar yang kita baca dan lihat. Padahal belum tentu berita tersebut benar atau tidak sumbernya.

Ditambah lagi stigma dari sebagian masyarakat menganggap bahwa, jika salah satu diantara mereka yang menunjukkan gejala virus, maka mereka langsung mengucilkan dan menjauhkan semua aktivitas yang berhubungan dengan orang tersebut. Mau tidak mau kita juga terkena imbas dari cemoohan orang-orang yang menganggap bahwa orang itu bisa menyebarkan virus kepada siapapun yang ada didekatnya. Sehingga menimbulkan gejala-gejala psikosomatis yang diantaranya adalah kita selalu memikirkan hal-hal yang berlebihan dan akhirnya kita tertekan dan stress melanda diri kita.

Sebenarnya stress hanya bersifat sementara, namun kita butuh waktu untuk menghilangkannya. Namun perlu kita ingat bahwa stress tidak memandang usia kepada siapa saja ia datang. Dimulai dari anak-anak, remaja, maupun orang dewasa. Faktor utama dari stress yang masih terus menghampiri sebagian besar orang ialah anak-anak merasa tidak nyaman dalam sistem pembelajaran yang dilakukan secara daring. Penggunaan teknologi untuk media belajar sangat diperlukan, sedangkan sebagian besar masyarakat Indonesia masih tergolong dalam masyarakat yang tergolong menengah ke bawah. Kecanggihan teknologi pada saat ini semakin berkembang pesat sehingga membuat setiap orang mau tidak mau harus bisa menggunakan teknologi. Sistem pembelajaran daring menggunakan via whatsApp, Classroom, dan media sosial lainnya. Dan bagi remaja ataupun mahasiswa merasa kurang efektif dalam perkuliahan. Banyak sekali matakuliah yang kurang paham dan untuk dimengerti. Mereka menganggap bahwa dengan belajar daring semakin mempersulit untuk memahami setiap pelajaran atau matakuliah yang diberikan oleh guru atau dosen. Bagi orangtua, selalu memikirkan bagaimana pendidikan anak-anak mereka, pembayaran uang sekolah yang terus berjalan, dan hingga sampai saat ini kasus covid-19 tetap bertambah setiap harinya.

Bagaimana cara mengendalikan stress dimasa pandemi?

Banyak kegiatan yang harus kita lakukan diantaranya berolahraga, menemukan hobbi baru, melakukan hal-hal yang positif, selain itu menjaga kesehatan fisik agar sistem imun tetap terjaga dan perlu dilakukan. Kesehatan mental pun juga perlu ditingkatkan dimulai dengan menanamkan pikiran-pikiran yang positif, istirahat yang cukup  dan mencari berita-berita atau informasi tentang covid-19 juga dapat membantu menjaga kesehatan mental.

            Di masa pandemi yang masih melanda Indonesia, banyak sekali kegiatan yang bisa menjauhkan stress dari diri kita. Masyarakat Indonesia sekarang disibukkan dengan bermain sepeda (gowes), hobbi memasak (menemukan resep-resep terbaru), dan menanam bunga. Diantara cara tersebut kita bisa mengendalikan stress dan berharap semoga stress tidak menyerang diri kita. Kita juga bisa menerapkan pola hidup sehat untuk mengandalikan stress, diantaranya :

1. Mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi

2. Rajin mencuci tangan menggunakan sabun

3. Hentikan kebiasaan buruk seperti merokok atau minuman beralkohol

4. Memakai masker saat bepergian

5. Tetap terhubung dengan orang-orang tersayang (keluarga)

6. Menonton film kesukaan keluarga

7. Mendengarkan musi

8. Jaga jarak dengan orang lain atau jauhi tempat keramaian

9. Jika kita batuk, gunakan lengan sebagai tempat menghambat virus menyebar

10. Hindari benda-benda yang sering disentuh oleh orang-orang ditempat umum 

Selain hal tersebut, banyak alternative lain yang bisa kita lakukan yaitu dengan menghubungi psikiater atau konselor. Disana kita bisa berkonsultasi dengan yang ahli dalam menangani kasus tentang stes yang saat ini melanda sebagian besar masyarakat Indonesia. Tapi perlu kita ingat bahwa stress buka berarti orang yang benar-benar mengalami gangguan kejiwaan. Perlu kita ketahui bahwa stress bisa mengenai siapa saja tanpa memandang mau yang muda ataupun tua.

Asosiasi Psikologi Kesehatan Indonesia (APKI) memberikan layanan konsultasi kepada siapa saja melalui aplikasi WhatsApp. Mereka akan membantu kepada pasien atau klien untuk mengendalikan stress dan klien akan diberikan perdampingan oleh pihak layanan konseling. Seperti halnya kegiatan meditasi atau terapi relaksasi yang secara otomatis menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang menggorogoti pikiran mereka. Hal tersebut dinilai sangat ampuh untuk menghilangkan stress dalam diri kita.

Kita sebagaimana manusia khususnya seorang muslim juga harus selalu berdoa kepada Allah dan tetap bersyukur bahwa ada banyak hikmah yang bisa kita ambil dari pandemic yang masih terus melanda negeri ini. Bangunlah pikiran-pikiran positif seperti halnya berikhtiar bahwa setiap masalah pasti selalu ada solusi untuk menyelesaikan semuanya. Walaupun pandemic belum berakhir, kita harus tetap berada dirumah. New normal sudah diberlakukan disebagian besar wilayah Indonesia, hal tersebut belum bisa memastikan apakah virus tersebut sudah benar-benar bersih dari Indonesia. Jangan terlalu panik dan bijaklah dalam bermedia sosial, saring terlebih dahulu berita atau informasi yang kita dapatkan. Tetaplah jaga ibadah kita sebagai seorang muslim, menghindari berita-berita yang bersifat hoax, dan tetaplah patuhi protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah. Insya Allah kita akan terhindar dari stress.

*Penulis merupakan mahasiswi program studi Bimbingan Penyuluhan Islam yang sedang melaksanakan KKN DR UIN-SU, Kelompok 37

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Mengendalikan Stres di Masa Pandemi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel