Tak Ada yang Bisa Baca Pikiranmu, Ayo Berkomunikasi!

 Oleh : Muhammad Ichsan


Apakah kalian bisa baca pikiran orang lain? atau kira-kira, orang lain bisa  baca pikiran kalian, tidak? Tidak bisa kan?

Jadi gini, kan semua orang gak bisa baca pikiran nih, artinya kalau berurusan dengan orang lain, kita harus bisa berkomunikasi dengan baik.

Coba bayangin kita lagi rapat atau katakanlah diskusi kelompok, terus tidak ada yang berkomunikasi, semua fokus dengan pikirannya masing-masing. Apakah akan ada yang mengerti pikiran yang lain? tidak kan?  kan gak ada yang bisa baca pikiran.

Di dunia ini, hal sekecil apapun kita selalu berurusan dengan orang lain, mulai dari pendidikan, pekerjaan, pertemanan, atau bahkan percintaan. Dan satu-satu cara untuk bisa memiliki relasi yang baik dengan orang lain adalah dengan memiliki pola komunikasi yang baik.

Ingat, “komunikasi yang baik”, bukan komunikasi yang tidak baik, apalagi tidak dengan berkomunikasi. Sebagai manusia kita selalu butuh untuk berkomunikasi dengan orang lain, dan pola komunikasi yang kita gunakan pun beragam.

Nah, di sini saya akan jelaskan apa aja sih bentuk pola komunikasi itu? mana yang sebaiknya dipakai dan mana yang harus dihindari.

1. Pola Komunikasi Pasif

Pola Komunikasi Pasif yaitu orang yang susah mengekspresikan dirinya dan cenderung mengalah ke orang lain. Biasanya karena tidak bisa menyatakan yang dirasakannya, maka cenderung terjadinya kekesalan dan emosi negatif yang terpendam. Orang yang seperti itu juga biasanya susah untuk kontak mata dengan lawan bicaranya, susah bilang “tidak”, atau juga bisa ke tipe yang “ikut aja deh”.

Pola komunikasi pasif sangat rentan membuat hidup menjadi ambyar, karena kerap terseret ke sana ke mari untuk hal-hal yang sebenarnya tidak disukai, dan tidak inginkan. Kenapa? karena disatu sisi, orang lain tidak tahu kalo yang orang minta lakukan ke mereka itu mereka tidak suka. Di sisi lain orang juga tidak tahu mereka tuh sukanya apa dan maunya apa.

Ingat, orang lain tuh gak bisa baca pikiran kalian! Jadi, kalau kalian gak mau hidup ambyar, tapi pola komunikasi kalian pasif, yuk mulai belajar berbicara!

1. Pola Komunikasi Agresif

Kalau kita tadi bahas pola komunikasi yang susah bicara, pola berikutnya adalah kebalikannya. Yaitu pola komunikasi agresif. Orang yang menerapkan pola komunikasi agresif ini biasanya memiliki keinginan untuk mendominasi segalanya. Biasanya suaranya keras, kontak matanya intens kaya mau melotot gitu, dan biasanya ingin mengontrol orang lain dengan cara intimidasi, kritik tajam, menyalahkan, dan lain sebagainya.

Tidak usah dijelasin panjang-panjang, saya yakin kalian pasti pernah ketemu sama tipe orang yang begini. Di saat bersamaan emang kadang-kadang mereka dipandang sosok leader yang baik dan tegas, tetapi tidak selalu.

Bentuk pola komunikasi agresif ini punya pemikiran bahwa “aku benar, dan kau salah.” atau suka bilang bahwa “caraku, atau tidak sama sekali!” Serta jarang menerima pendapat orang di sekelilingnya dengan baik.

Nah, buat kalian yang punya pola komunikasi agresif, sekarang saya ingin bertanya, apakah kalian tidak pernah salah? apakah kalian orang paling pintar sedunia? Saya rasa kemungkinan besar, jawabannya adalah tidak.

Jadi, kalo kalian bukan orang paling pintar sedunia dan tidak pernah salah, ya bagaimana bisa berkembang kalau tidak bisa mendengarkan orang lain? Lionel Messi saja, masih latihan tiap minggu, dan punya pelatih, padahal sudah jadi pemain bola paling jago sedunia. Masa sih, kalian bilang “gak butuh dengerin orang lain”? Jangan begini terus yaa. Kasian potensi kalian kalau tidak berkembang karna susah dengerin orang lain. Yuk, belajar pola komunikasi yang benar!

1. Pola Komunikasi Pasif-Agresif

Pola Komunikasi Pasif-Agresif yaitu penggabungan antara dua pola sebelumnya. Pola komunikasi yang terlihat pasif tetapi memiliki makna kata-kata agresif. Orang yang menerapkan komunikasi ini cenderung lebih ke bicara yang pelan-pelan tidak kedengaran, susah mengkomunikasikan pendapatnya dengan jelas, dan apa yang dipikirkan serta dirasakannya berbeda dengan hal yang ditampilkan.

Orang pasif-agresif ini bisa saja sebenarnya marah, tapi muka sambil senyum. Sebenarnya mereka juga paham apa yang mereka inginkan dan butuhkan, tapi tidak bisa saja gitu, mengkomunikasikannya dengan jelas. Kalau bentuk omongan, biasanya suka ngomong: “ya, yaudah gapapa, gitu aja, tapi kalo ditegur bukan salahku ya.” atau “okedeh”, tapi omongannya pakai suara kecil, terus sarkas. Atau yang paling sering, kalau ditanya “kamu gapapa?” terus dia jawab “nggak, aku gapapa” tapi nadanya judes.

Nah, orang yang pasif-agresif ini suka bicara pakai kode. Maunya menyampaikan apa, tapi mengkomunikasikannya pakai apa. Atau kadang-kadang tidak bicara, tapi bersikap gimana gitu. Gini ya, buat kalian yang komunikasinya pasif-agresif, kalian tuh cuma boleh melakukan ini dengan satu syarat, apa itu? Syaratnya adalah kalian harus membuat “Kamus Bahasa Kode” versi kalian! terus bagikan ke orang-orang sekitar, biar mereka bisa mengerti kalau kalian ngode sesuatu itu maksudnya apa. Kenapa? ya balik ke awal tadi, orang lain itu tidak bisa baca pikiran kalian.

Jadi, kalau belum ada kamus bahasa kode versi kalian, yuk ganti pola komunikasinya!

1. Pola Komunikasi Asertif

Kalau menurut para ahli, ini pola komunikasi yang paling ideal, dan win-win solution. Yaitu pola komunikasi asertif. Apa yang membuat pola komunikasi asertif ini spesial? Karena pola komunikasi asertif menggabungkan aspek-aspek positif dari pola komunikasi pasif, agresif, dan pasif-agresif menjadi sebuah pola yang super powerful.

Asertif ini menekankan komunikasi yang terbuka, tetapi tidak memaksa. Jadi, mereka tahu apa yang mereka inginkan dan paham juga cara menyampaikannya ke orang lain, sambil mempertimbangkan perasaan orang lain juga.

Nah, bagaimana cara mengembangkan pola komunikasi asertif? Sebenarnya caranya ada banyak, tapi disini saya cuma memberi beberapa tips untuk bisa melatih komunikasi yang asertif buat kalian.

1. “I- Statement

Ini adalah tips paling kuat dan nyata, “I- Statement” adalah pengekspresian kalimat dari sudut pandang “aku/saya” untuk hal-hal yang sifatnya pendapat, dan bukan fakta.

Misalnya gini: kalian tidak sengaja datang terlambat janjian ketemuan sama teman, nah menurut kalian, respon mana yang lebih baik dari temen kalian?

Pertama, teman kalian bilang begini: “lama banget kau, gara-gara kau kita jadi ngaret.”

Atau yang kedua, teman kalian bilang: “aku suka kesal kalau kamu datangnya telat, karna menurutku, kamu kayak gak ngehargai waktu ku, gitu”.

Nah, mana yang lebih enak didengar? Yang kedua kan? kenapa? karena di situ jelas, itu emosinya dia, dia gak suka, dia marah, dan memposisikannya dengan benar. Dia memposisikan itu sebagai perasaan dia sebagai fakta bukan sebagai tuduhan buat kalian. Dia mengekspresikan ketidaksukaannya. Beda kan? Kalau yang pertama tuh kesannya seperti nge-judge banget, kayak merasa diserang. Sementara yang kedua, kalian jadi paham “oh ternyata dia gasuka, karna kalo kita melakukan ini, dia merasakan itu”. Yasudah, kita jadi bisa menerima.

Sama juga kalau kalian ngomong ke orang, ya juga harus begitu. Ketika kalian menyampaikan opini dan perasaan, ya sampaikan sebagai opini dan perasaan bukan sebagai tuduhan seolah-olah fakta, itu lebih jauh lebih baik sehingga lebih bisa diterima orang lain.

1. Menjaga Kontak Mata

Kalau kata orang barat, “mata adalah jendela jiwa.” jadi, kontak mata itu sekuat itu. Tatapan mata adalah salah satu ekspresi paling jujur yang bisa dilakukan oleh orang lain. Bahkan ada yang bilang, kalau kontak mata yang baik, bisa bikin orang jatuh cinta seketika.

2. Berani Mengatakan “Tidak

Ini salah satu komponen paling penting. Komponen utama asertif adalah kalian bisa mengungkapkan apa yang kalian pikirkan dan rasakan dengan jelas, termasuk mengatakan “tidak”. Untuk mengatakan “tidak” memang butuh proses yang tidak langsung bimsalabim, tetapi itu bisa dilatih kok, pelan-pelan.

Sesimpel misalnya teman kalian mengajak nongkrong dan kalian ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalin atau dikejar deadline, atau sedang tidak ada uang, yasudah, katakana saja “tidak!”

3. Jelaskan apa yang kalian inginkan dan rasakan dengan percaya diri.

Asertif itu sulit dilakukan kalau kalian tidak percaya dengan diri kalian sendiri. Poin-poin sebelum ini sebenarnya melatih kepercayaan diri juga kok. Jadi, kalau kalian mempraktekkannya pelan-pelan dengan percaya diri, lama-lama pasti akan percaya diri juga.

Oke, udah paham ‘kan, jenis-jenis komunikasi dan mana yang baik? Saya harap setelah membaca tulisan ini kalian bisa menerapkannya dikeseharian kalian. Karna seperti yang saya katakan diatas, pola komunikasi asertif itu win-win solution untuk kalian berkomunikasi dengan orang lain, apa salahnya sih dipelajari?

Akhir kata, sekali lagi saya katakan, orang lain tidak bisa baca pikiran kita. Jadi, mari kita berkomunikasi dengan baik, dengan cara komunikasi asertif.


*Penulis merupakan mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi yang sedang melaksanakan KKN DR UIN-SU, Kelompok 68

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Tak Ada yang Bisa Baca Pikiranmu, Ayo Berkomunikasi!"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel