Peran Komunikasi Satgas Percepatan Penanganan Covid dalam Membentuk Pola Pikir Masyarakat

 Oleh : Wahdah Annisa Amri


Dilatarbelakangi karena kekhawatiran akan penyebaran virus covid yang cenderung mengalami peningkatan, bahkan hal ini juga telah dinyatakan secara resmi oleh World Health Organization (WHO) sebagai pandemi. Pemerintah membentuk satuan tugas percepatan penanganan covid sebagai jembatan membantu pemerintah dalam menghadapi pandemi virus covid di Indonesia.

Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 7 Tahun 2020 tentang Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease (Covid-19), gugus tugas ini resmi dibentuk oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 13 Maret 2020 dan berada di bawah serta bertanggung jawab langsung pada Presiden Joko Widodo.

Doni Monardo selaku Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana ditunjuk Presiden Jokowi sebagai Kepala Pelaksana gugus tugas ini. Gugus tugas ini tidak hanya dibentuk di tingkat nasional, tetapi juga tersebar di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Yang mana dalam hal ini terdapat relawan-relawan satuan tugas yang ada di setiap daerah.

Ada tiga hal yang menjadi tugas pokok satuan tugas percepatan penanganan covid, yaitu :

1. Satgas diharapkan untuk selalu membantu pemerintah dalam upaya membantu pengurangan dan pencegahan penularan covid di masyarakat. Mencegah dan mengajak masyarakat untuk patuh dalam mengikuti protokol kesehatan.

2. Satgas diharapkan membantu dalam pemetaan persoalan yang terjadi di daerah. Contohnya seperti yang terjadi di tengah masyarakat, ada warga yang menganggap virus covid ini tidak ada. Ada juga pendapat yang beredar di masyakarat bahwa virus covid ini merupakan suatu  konspirasi dan menganggap virus covid ini tidak berbahaya. Untuk itu kehadiran relawan satgas sangat penting di masyarakat.

3. Satgas menghimpun dan mengoordinasikan sumbangan dan bantuan dari para donatur. Membantu pemerintah dalam mendistribusikan bantuan dan sumbangan ke rumah sakit rujukan, puskesmas, kelurahan, dan sembako yang akan langsung didistribusikan ke warga. Satgas ini bekerja sama dengan satuan-satuan tugas yang ada di daerah untuk memantau pendistribusian bantuan itu.

Di dalam satuan tugas terdapat beberapa relawan yang sesuai di bidangnya masing-masing, seperti ada dokter yang menangani pasien covid, ada yang mengumpulkan informasi tentang berapa kenaikan, kesembuhan, kematian covid, dan ada juga yang di bidang penelitian. Salah satunya yaitu di bidang komunikasi. Bidang ini termasuk bagian yang penting dikarenakan menjadi acuan masyarakat dalam mengetahui informasi dan perkembangan mengenai covid tersebut.

Untuk mempermudah masyarakat mendapatkan informasi, satgas percepatan penanganan covid selalu menginformasikannya melalui press release di televisi maupun melalui akun-akun media sosial official resmi dan website. Salah satunya yaitu website resmi satgas percepatan penanganan covid bisa kita lihat di Bersatu Lawan COVID-19. Di dalam website resmi tersebut kita bisa menemukan data sebaran terbaru secara global maupun nasional, tanya jawab seputar covid, edukasi, dan hoax buster selama covid berlangsung.

Seperti contohnya adalah perubahan istilah orang dalam pemantauan (ODP) berubah menjadi kontak erat, PDP menjadi kasus suspek, dan OTG menjadi kasus konfirmasi tanpa gejala. Sebenarnya perubahan istilah itu justru untuk mempermudah masyarakat, dan sepertinya itu yang harus ditekankan ke masyarakat lagi untuk jangan malas cari informasi atau malah karena malas jadi menyebarkan informasi-informasi yang berseliweran dan tidak jelas validitasnya.

Contoh lain seperti yang beredar di media sosial banyak masyarakat yang tidak mau diperiksa menggunakan termometer gun. Karena dari berita yang beredar laser dari termometer gun tersebut akan merusak struktur otak kita. Ini diawali dengan adanya video Ichsanuddin Noorsy dalam wawancara dengan Helmi Yahya. Akibat dari pernyataan tersebut masyarakat menjadi paranoid dan timbulah stereotype dalam masyarakat bahwa termometer gun itu sangat berbahaya.

Hal tersebut langsung disanggah oleh tim komunikasi satgas percepatan penanganan covid. Mereka menjelaskan melalui media elektronik maupun media sosial bahwa sinar laser yang ada pada termometer gun tersebut merupakan non kontak bukan untuk mengukur temperatur, melainkan sebagai alat bantu untuk membidik area mana yang akan diukur suhunya. Laser yang digunakan adalah warna merah dan memiliki energi yang sangat kecil tentunya tidak akan mampu membuat kerusakan pada jaringan kulit manusia.

Maka di sinilah diperlukan hadirnya satgas percepatan penanganan covid di tengah masyarakat. Karena sangat banyak sekali timbul pendapat-pendapat di dalam masyarakat yang bahkan tidak jelas sumbernya. Bahkan ada yang tidak sesuai dengan profesinya. Hanya bisa mengotakkan pikiran masyarakat dengan bebas tanpa melihat kebenarannya.

Komunikasi itu lebih kurang sudah dimaksimalkan sama satgas percepatan penanganan covid. Yang menjadi permasalahan adalah lebih kepada kemampuan masyarakat yang perlu di edukasi dibagian cara memilah informasi.

Dengan dibuatnya akun media sosial resmi satgas percepatan penanganan covid ini diharapkan masyarakat menjadi lebih bijak dalam menyaring informasi. Padahal sangat banyak sekali informasi yang bisa kita ketahui lewat akun media sosial dan website resmi satgas covid. Seperti update berita seputar covid per harinya, daftar rumah sakit rujukan di tiap daerah, kontak layanan kementerian/lembaga yang menangani covid, tim pakar tiap daerah, hotline satgas percepatan penanganan covid masing-masing daerah, dan lain-lain.

Apalagi di zaman sekarang ini kita sangat mudah unuk mendapatkan informasi dengan dibantu oleh kecanggihan teknologi terkini. Dan juga keterbukaan informasi seputar covid yang dilakukan oleh bagian humas covid yang tiap hari terus menginformasikan kepada masyarakat mengenai perkembangan virus covid di Indonesia. Sekarang tugas bagi diri kita untuk menyaring dan mencari tahu kebenaran informasi tersebut. Karena dengan begitu penyebaran covid dapat kita minimalisir dan secara tidak langsung kita membantu pemerintah maupun tenaga medis dalam bekerja sama untuk mencegah penyebaran covid.


*Penulis merupakan mahasiswi program studi Ilmu Komunikasi yang sedang melaksanakan KKN DR UIN-SU, Kelompok 98

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Peran Komunikasi Satgas Percepatan Penanganan Covid dalam Membentuk Pola Pikir Masyarakat"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel