Cerpen Patah Hati, Merbabu Tak Merindu

Cerpen Patah Hati, Merbabu Tak Merindu


Merbabu Tak  Merindu

Oleh: Iin Mukhsinah


“Astagaa.. telatttt!!!”. Mataku terbelalak melihat tanggal dan jam pada layar HP androidku, di mana menunjukan tanggal 27 Agustus 2020 pukul 09.45 WIB. Padahal di kertas undangan tertera aku harus datang pada jam 10.00 WIB. Kali ini aku melewatkan ritual mandi, aku segera mengambil setelan kebaya warna pink dan rok dengan corak batik warna coklat yang semalam sudah aku persiapkan dilemari.

Aku duduk didepan cermin riasku, aku bingung harus memulai dari mana, semalam memang aku tidur larut malam karena memikirkan apa yang harus aku pakai dan dandanan seperti apa yang bakal aku rias di wajahku.

Tapi sepertinya aku akan menggunakan riasan look natural, karena cocok dengan setelan bajuku yang berwarna pink. Setelah selesai, aku segera mengatur rambutku untuk dikepang susun mengarah ke samping kanan, agar terlihat lebih kalem aku menyisihkan sedikit poni menyamping juga. Lalu mengambil heels yang kusimpan di box lemari pakaianku paling bawah, maklumlah tubuhku ini bisa dikatakan mungil dengan tinggi hanya 158cm saja. “Oke selesai”. Ucapku.

Aku langsung menarik dan melepas hpku yang tengah aku charger dari aliran stopkontak di samping meja riasku. Aku buru-buru memesan GO-CAR, lalu mengambil dompet dan kado yang berisi selimut lady rose untuk aku bawa sebagai hadiah.

Saat aku mulai keluar kamar dan membuka pintu, langkahku tiba-tiba berat, pikiran dan hatiku tak sinkron dengan semua yang sudah aku persiapkan. Air mataku tiba-tiba membendung di bawah kelopak mata, tapi aku segera menyekanya, aku takut orang rumah melihat dan akan melarangku untuk datang ke acara pernikahan itu.

Tak lama kemudian, aku sampai digedung pernikahan. Di luar penuh dengan karangan bunga dan ucapan selamat menempuh hidup baru dari berbagai kerabat mempelai. Aku masuk dan mengisi daftar nama tamu yang hadir untuk tanda tangan dan memberikan kado kepada mba-mba cantik yang bertugas sebagai among tamu.

Lalu, aku dipersilahkan masuk dan mengantri untuk menyalami mempelai. Pernikahannya tergolong mewah, tamu undanganpun mengular, disitu aku bertemu beberapa teman yang lumayan aku kenal dan bertegur sapa. Sampai akhirnya, aku sudah mendekati sang pengantin pria untuk bersalaman. Aku melihatnya, dia mengenakan setelan baju pernikahan couple bersama mempelai perempuan dengan warna hitam dan beberapa aksesoris emas khas adat jawa tengah.

Dia sudah didepanku, aku langsung bersalaman, dan dia langsung mengusap dan mengelus-elus rambutku seperti yang dia lakukan dulu setiap kali bertemu denganku. Tiba-tiba bibirku tak mampu bergerak, aku hanya mampu tersenyum, aku tak sadar air mataku ikut mengiringi pertemuan kami, dia mencoba mengusap air mataku, tapi aku langsung mengelak dan bersalaman dengan mempelai perempuan sebagai bukti bahwa aku tidak apa-apa.

Aku baik- baik saja. Setelah aku bersalaman dengan pengantin dan meminum satu gelas air putih dalam kemasan, aku memutuskan untuk pulang, karena aku harus berangkat ke kampus untuk bertemu dosen dan bimbingan skripsi. Sepanjang perjalanan pulang aku hanya melamun, membayangkan waktu itu.. Seandainya tujuh tahun lalu itu tidak pernah ada..

Sabtu 23 Juli 2013, hari itu aku pulang sekolah jalan kaki sendirian, aku kelas 12 SMK Negeri di salah satu sekolah menengah di Jawa Tengah. Sebenarnya aku biasa berangkat dan pulang dengan temanku yang membawa motor, tapi temanku yang membawa motor itu tengah asik nongkrong bersama pacarnya, biasalah malam mingguan.

Beda denganku, aku baru saja putus dan memiliki masalah rumit karena kesalahpahaman yang mengakibatkan mantanku mengamuk dan mencaci maki aku dengan sebutan “selingkuhan pacar orang”. Padahal aku dan temanku yang dia maksud berselingkuh adalah sahabat dekat, jadi tidak mungkin aku dan sahabatku ini berpacaran dan menyelingkuhi pasangan kita.

Rumahku tak jauh dari sekolah, paling-paling cuma memakan waktu 20 menit jika menggunakan motor, tapi setelah keluargaku pindah, jalan menuju sekolahku jauh lebih dekat, mungkin yang biasanya pakai motor 20 menit, sekarang cukup 15 menit tapi dengan berjalan kaki.

“Gini banget jadi jomblo, apapa sendiri”. “Semoga siang ini jalan gang sepi, malu banget aku kalo banyak orang”. Batinku. Tiba-tiba ada dua pria berboncengan dengan motor matic biru lewat. Aku langsung pura-pura sibuk memainkan HP agar tidak terlihat seperti orang bingung.

Malamnya aku terus kepikiran, kecewa dan juga sedih, mengingat mantanku yang bernama Rifa itu terus menyebutku dengan sebutan selingkuhan dan beberapa nama hewan liar yang dia lontarkan padaku. Spontan saja kata-kata mantanku itu aku kopas dan kubuat status di blackberry massenger karena aku kesal.

Tapi tiba-tiba “kling-klung”. Suara pesan BBM-ku berbunyi, kubuka, ternyata ada seseorang yang komentar tentang statusku, dia menanyakan apa yang sedang terjadi denganku, mengapa aku membuat status seperti itu, sontak saja aku langsung menanggapi komentar itu dan bersemangat untuk menceritakan semuanya, karena pada saat itu aku memang butuh teman untuk cerita.

Tapi tiba-tiba aku sadar, siapa yang sedang aku ceritakan tentang masalahku ini, apa juga urusan dia menanyakan itu, dari foto profil yang dipasangnya aku tak mengenali pria ini. “Maaf kamu siapa ya, kok aku belum pernah lihat sebelumnya, apa aku yang mengundang pin BBM mu? Atau kamu yang tahu pin bbm ku?” tanyaku penasaran. 

“Aku fadil, aku orang sini juga kok, cuma aku jarang dirumah karena aku harus kuliah diluar jawa, tadi siang aku melihatmu pulang sekolah jalan kaki sendirian, aku yang berboncengan dengan temanku gaga pakai matic biru, lalu aku tanya-tanya tentang kamu lewatnya. Dan maaf aku mengambil pin bbm mu dari hp gaga tanpa ngomong dulu”.

Gaga ini tetangga jauhku, karena aku anak baru, aku jadi tidak terlalu akrab dengan gaga. Malam itu kita ngobrol panjang lebar, sampai-sampai aku diprovokasi dan dibujuk untuk masuk di kampusnya, kata dia kampusnya ini lain dari yang lain. Halah modus. Bisikku dalam hati.

Waktu memasuki Ujian Nasional semakin dekat tapi aku masih saja bingung untuk mendaftar PTN mana yang sesuai dengan jurusanku, multimedia. Fadil menyarankan agar aku mendaftar di kampusnya. Kata fadil, aku cocok masuk jurusan broadcasting.

Fadil juga bersedia untuk mengantarku jika aku membutuhkan bantuan, maklumlah dia ini mahasiswa semester lima broadcasting di salah satu universitas ternama di Jakarta, jadi dia sudah banyak pengalaman ketimbang aku. Kita semakin dekat, setiap pagi kita bertegur sapa lewat pesan bbm, dia juga mempunyai sebutan khusus untukku, yaitu my future wife. Entah apa yang ada dipikirannya kala itu.

Sampai suatu hari di desa baruku itu ada perlombaan sepak bola antar RW, aku dipaksa oleh sarah temanku untuk menemaninya menonton. Karena aku juga bosan di rumah, akhirnya aku mau saja, dan ternyata salah satu pemain sepak bola itu ada Fadil, Fadil melihatku datang untuk menonton, dia tersenyum manis melirikku.

Saat tengah bermain entah sangaja atau tidak, Fadil menendang bola ke arahku, sehingga dia lari mendekatiku dan mengambil bola itu, sontak aku kaget dan membuang muka seolah-olah aku tidak tahu. Tapi sayang, temanku sarah sudah melihat kekikukan ku itu, sehingga sarah malah meledeku sepanjang permainan berlangsung.

Dari situ, aku dan fadil semakin dekat, dia selalu mengabariku dan mengirimkan foto kegiatannya lewat bbm kepadaku. Sampai suatu hari dia mengajakku untuk jalan berdua ke waduk mrican, tempat yang asri dengan alam tanpa suara riuh klakson kendaraan.

Aku tidak dijemput langsung di depan rumah, melainkan di depan rumah tetanggaku, aku dijemput Fadil dengan motor ninja hijau kesayangannya. Oh iya sebelumnya aku juga sudah ijin terlebih dahulu kepada Ibu, Ayah dan Kak Lena kakak perempuanku, sehingga tidak akan ada yang marah-marah nantinya jika aku menghilang begitu saja dari rumah.

Sepanjang perjalanan kita cerita dan sharing kehidupan kita masng-masing, rasanya seperti kita sudah kenal lama. Setelah sampai, kita berjalan-jalan mengelilingi waduk dengan berpegangan tangan, dia terus mengusap dan mengelus-elus rambutku, kata Fadil rambutku halus dan wanginya beda dari parfum rambut yang biasa kebanyakan dijual.

Disana Fadil juga bercerita jika dia tidak bermain sosial media apapun, menurutnya itu tidak penting dan dikarenakan dia juga agak sedikit gaptek masalah sosial media, disitu aku hanya mengangguk memahami maksudnya.

Padahal setahuku mahasiswa sekarang mana ada sih yang engga main sosial media? Ah tapi benar juga, sebenarnya memang akan tidak penting jika kita hanya membuang-buang waktu untuk bermain di sosial media, pikirku. Sampai pada akhirnya aku meminta untuk pulang, di tengah perjalanan pulang tangan kiri fadil selalu memegang kedua tanganku yang kuletakan ditengah-tengah dadanya.

Dia selalu menoleh kebelakang jika aku melepaskan peganganku. Aku dan Fadil jalan bersama sudah sampai beberapa kali, sebenarnya aku agak rikuh, selain karena aku orang baru di daerah itu, juga karena aku dan Fadil belum lama kenal, tapi mau gimana... aku nyaman kerap kali disamping dia, yah mungkin istilahnya aku sudah baper...

Sampai suatu ketika, Fadil tidak mengabariku beberapa hari, aku mulai gelisah dan sedikit kecewa, “Apa aku sedang dipermainkan?”. Batinku.”kling-klung”. Pagi itu tiba- tiba Fadil mengirimiku fotonya yang tengah berada dipuncak gunung merbabu dengan membawa kertas bertuliskan “SAYANG KINAL LOVE”.

Aku langsung tersipu dan tersenyum, aku membalasnya,”pantesan ya gak ngabarin aku”, dia menjawab, bahwa fadil sangat rindu ketika dia berada di puncak gunung merbabu, Fadil berharap suatu saat Fadil dan aku bisa naik gunung merbabu bersama, kata Fadil di sana sangatlah indah. Tapi dari foto tulisan itu, aku mempertanyakan kenapa di balik kertas itu seperti ada coretan lain, lalu Fadil menjelaskan jika tulisan dibaliknya adalah ucapan selamat ulang tahun untuk ibunya yang berulang tahun.

Dan dari akhir percakapan itu, Fadil memutuskan untuk menembak dan menyatakan perasaannya, dia mau aku untuk jadi kekasihnya. Tapi entah kenapa jari-jariku mengetik “Maaf ya, sepertinya jangan sekarang deh, aku belum bisa”.

Setelah tahu jawabanku, dia mungkin agak kecewa, lalu selisih beberapa jam dia tiba-tiba memasang foto profil perempuan dan mengganti nick name bbmnya dengan nama perempuan itu. Saat itu aku agak kecewa dan menyesal, kenapa Fadil secepat itu bisa langsung jadian dengan perempuan lain, pikirku.

Aku dan Fadil mulai renggang, walau kita kadang saling tukar pesan, tapi sudah tak se-intens dulu, dia juga sudah memanggil namaku dengan sebutan Kinal, bukan yang lain atau yang biasa dia sebut dulu. Sejak saat itu aku mulai rajin membuat status galau di Facebook. Dan tanpa sengaja aku iseng mencoba mengetik nama Fadil di kolom pencarian, dan... ternyata iya!

Dia memiliki akun sosial media, di akunnya disebutkan jika hubungannya tengah bertunangan, tidak sampai disitu... dia tag dan tulis nama tunangannya itu, karena penasaran bercampur kecewa aku membuka akun tunangannya itu, dan... taraapp... dalam feed fotonya berisi foto mereka berdua semasa di kampus, mereka satu kampus dan satu SMA.

Aku lemas, wajahku mulai tak selera untuk melihatnya, kecewaku tak bisa kuungkapkan, air mataku jatuh begitu saja tanpa ada yang menyentuh dan memerintahnya. Aku sengaja meminta pertemanan agar dia tahu jika aku sudah mengetahui hubungannya, tapi Fadil justru menusuk perasaanku lagi dengan dia meminta pertemanan di akun instagram.

Disitu aku tak bisa berkata-kata, aku hanya tersenyum, ternyata selama ini aku benar-benar sudah dipermainkan olehnya. Aku langsung menerima permintaan pertemanan di akun Instagram, aku langsung membuka akun Fadil, dan di feed-nya terdapat foto tunangannya dan juga ada sebuah foto yang sama, tanggal yang sama dipuncak gunung merbabu, dia menuliskan “HAPPY ANNIVERSARY YANG KE 5 SAYANG”.

Deeggg... aku kecewa Fadil... ternyata benar, di balik kertas tulisan “sayang kinal love” masih ada ungkapan lain untuk perempuan lain. Kau bohong Fadil.. kau munafik Fadil... kau... kau. Aku sudah tak bisa berkata-kata, di situ aku hanya bisa geleng-geleng kepala dan mengusap air mataku yang dengan mudah  tergelincir di pipi kanan dan kiriku.

Aku menutupi rasa kecewaku di depan keluarga dan teman-temanku, aku hanya berpikir, tuhan baik, tuhan telah menuntun jari-jariku untuk mengetik dan menolak dia, tuhan sangat sayang padaku. Aku baru menyadari semua, pantas saja dia tidak mau menjemputku di depan rumah, melainkan di depan rumah tetangga jauh, pantas saja dia mengaku tidak memiliki akun sosial media, karena takut semua ini terbongkar dan ketahuan.

Memang sulit untuk bisa dengan mudah dan cepat menerima ini semua. Sampai pada akhirnya aku butuh teman, aku main kerumah temanku Sarah, saat itu Sarah baru saja menikah, lalu tiba-tiba suami Sarah meledekku, “Nal ada salam tuh dari Fadil”.

“Hehe.. ohya mas dia katanya mau nikah ya?”. Sahutku kecut. “Iya Nal.. tapi gak tau kapan, orang tunangan udah lama gak nikah-nikah tuh anak”. Mendengar jawaban Mas Dodi Suami Sarah, aku mulai tak karuan lagi, duniaku seperti sedang diputar-putar..

“Kak sudah sampai nih...”. Tiba-tiba supir GO-CAR menyadarkanku di tengah lamunanku membayangkan masa lalu, “Oh iya makasih pak..”. Aku langsung keluar, membayar GO-CAR tersebut. Dan melupakan kisah itu dengan seiring berjalannya waktu, lalu bersiap-siap untuk ke kampus menemui dosen pembimbing skripsiku.


*Penulis berasal dari Purbalingga, Jawa Tengah dengan akun Instagram @iin_mukhsinah


Berlangganan update artikel terbaru via email:

2 Responses to "Cerpen Patah Hati, Merbabu Tak Merindu"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel