Pengalaman Gowes di Medan


Gowes adalah aktifitas mengayuh pedal pada sepeda. Sebutan gowes akrab terdengar di kalangan orang yang bersepeda. Kegiatan bersepeda kini menjadi tren dikalangan anak muda hingga berbagai usia. Sepeda yang dulu hanya menjadi transportasi kegiatan sehari-hari saat ini sudah menjadi hobi. Begitu halnya dengan saya yang juga mulai aktif bersepeda. Namun kali ini ada yang berbeda, saya tak lagi mengayuh sepeda sendirian. Namun, gowes kali ini dilakukan bersama komunitas bikers.

Banyak komunitas dan kumpulan pesepeda menjadikan gowes sebagai rutinitas mingguan. Seperti Onta Bikers Mountain (OBM) misalnya. Bagi OBM, bersepeda merupakan salah satu langkah yang tepat untuk mengisi waktu kosong setiap minggunya sehingga sudah seperti berolahraga. Komunitas ini rutin menjalankan kegiatan bersepeda mingguan di Kota Medan dan sekitarnya. Gowes saya bersama komunitas OBM ini menjadi perjalanan kedua setelah gowes pertama di minggu sebelumnya.



Cerita ini bermula pada pagi hari nan gelap gulita dari utara pulau sumatera di sebuah Kota Metropolitan tepatnya berada tengah-tengah kota Medan. Dari tempat tinggal saya di Jl. Brigjend Katamso dan pasti kalian tahu, sebab rumah saya dekat sekali dengan Istana Maimun. Ya itu, wisata bersejarah yang ada di Kota Medan. Pasti kalian sudah bisa membayangkan jaraknya bukan? kalau sudah, mari kita lanjutkan ceritanya.

Pagi sekali setelah salat subuh, saya dan teman saya bernama Bogel bertemu di taman makam pahlawan setelah itu melanjutkan perjalanan ke jembatan Fly Over Amplas. Kami menunggu teman gowes lainnya di bawah jembatan. Ya, titik kumpul kami di sini. Setelah semua driver berkumpul, kamipun melanjutkan perjalanan ke ladang buah-buahan dan kolam ikan milik teman kami Hanif di Deli Tua Timur. Sebelum masuk ke kawasan ladang, kami mengambil jalur di ladang sawit sekitar Deli Tua Timur.



Perjalanan di sana cukup terjal yakni naik turun tak beraturan dan berlumpur. Resikonya apabila ada gangguan di sepeda, driver bisa jatuh ke kolam pancing ikan milik warga. Dengan ekstra keras dan berhati-hati kamipun mengayuh sepeda dengan keseimbangan badan yang tinggi karena jika tidak, kami bisa terjatuh ke kolam pancing tersebut.

Para driver terdiri dari 20 orang dengan jenis sepeda yang berbeda akan tetapi satu diantara kami menggunakan sepeda yang tidak khusus pada jalan tersebut, dia menggunakan sepeda jenis BMX. Sepeda yang seharusnya digunakan adalah sepeda yang mampu berada pada jalur khusus bebatuan, naikan, turunan, dan berlumpur dengan jenis MTB serta memiliki ban berbahan khusus. Syukurnya kami semua mampu melewati jalur tersebut dengan aman tanpa ada yang terjatuh maupun terkena lumpur.

Jalanan yang kami lalui cukup memacu kecepatan karena banyaknya batu jalan membuat kami harus mengayuh sepeda dengan kencang. Selain itu, jalan lainnya juga sangat berlumpur sehingga kami juga harus ekstra hati-hati agar tidak terjatuh di kumpulan tanah liat yang berlumpur itu.



Setelah melewati jalan berlumpur di sawit Deli Tua Timur, sampailah kami pada jalan beraspal yang membuat sepeda mampu berjalan lebih cepat dari sebelumnya meskipun terdapat jalan yang mendaki dan menurun. Kamipun berkeliling hingga tak terasa sudah sampai pada lokasi tujuan yakni ladang buah-buahan dan kolam ikan sekitar pukul 12.30 WIB.

Perjalanan pergi memakan waktu sekitar 2 jam 17 menit dengan jarak 30,7 km. Kalau dihitung dengan perjalanan pulang bisa dikalikan 2 dengan jarak saat pergi. Kira-kira 30,7 km x 2 yaitu 61,4 km dengan waktu perjalanan yakni 4 jam 34 menit. Ini dia peta perjalanan kami.


Namun, bisa dibandingkan dengan perjalanan pulang dari Raka Rizqi yang juga merupakan bikers. Raka gowes dengan trek atau perjalanan dari Namorambe. Lokasi tujuan gowes yakni ladang tempat lokasi tujuan saya dan OBM juga. Ini peta perjalanannya.


Ketika baru sampai, langsung saja kami beristirahat mengumpulkan tenaga yang hilang  sejenak di rumah Hanif setelah itu memancing ikan nila segar. Ikan yang didapat cukup banyak yaitu berjumlah 5 kg. Kemudian ikan tersebut digoreng oleh penjaga ladang dan kami makan bersama sembari minum kopi hitam di rumah tersebut. Tak lupa kami bercengkerama dan tertawa lepas melepas ingatan terhadap wabah Covid-19 ini. Kebetulan, gowes kami kali ini masih dalam suasana Covid-19 yang juga hangat dibicarakan oleh dunia. Tentunya, kami juga menjaga jarak aman antar satu dengan yang lain.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB sehingga mengharuskan kami untuk pulang agar ketika sampai di Medan, cuaca tidak terlalu gelap. Sembari jalan menuju Medan, kami gowes keliling di sekitar ladang dan mencoba kembali gowes di tempat sebelumnya yang kami lewati saat pergi tadi yaitu ladang sawit. Kami melewati jalan berlumpur, bebatuan, naik dan turun. Dengan semangat yang tinggi kami kayuh sepeda dengan kencang tanpa ada suatu kendala apapun.

Sekitar pukul 15.00 WIB langsung  saja melanjutkan setengah perjalanan lagi menuju Medan. Tak terasa sepeda yang kami kayuh terlihat santai namun sudah berada tepat di Fly Over Jl. Letjend. Jamin Ginting. Sesampainya di sana kami berpisah dan kembali ke rumah masing-masing. Ketika sudah berada di rumah yakni pada pukul 16.30 WIB, langsung saja saya parkirkan sepeda di teras rumah. Sebagian teman-teman yang lain langsung mencuci sepeda agar bersih dan terawat.

Gowes saya bersama Onta Bikers Mountain (OBM) selanjutnya dengan lokasi tujuan yaitu Klumpang, Hamparan Perak, Sumatera Utara. Meski sedang berpuasa dalam suasana ramadhan dan sedang dalam situasi wabah Covid-19 namun saya dan OBM akan tetap menjaga jarak aman serta stay safe. Karena bagi kami, gowes sudah menjadi olahraga yang akan terus dilakukan setiap minggunya demi menjaga kesehatan tubuh. Nantikan cerita selanjutnya ya.


Penulis : Nanda Tanjung
Editor   : Tri Ayu Andani Nasution

Berlangganan update artikel terbaru via email:

3 Responses to "Pengalaman Gowes di Medan"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel