Pengalaman Kuliah Di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara


Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Begitu kata bijak yang sering didengar oleh telinga kita. Setiap kejadian pasti ada pengalaman dan setiap pengalaman terdapat sisi positif dan negatif. Sisi positif dijadikan sebagai guru dalam memberi pelajaran yang teramat berarti bagi kehidupan kita. Sisi negatif atau sisi kurang baik memberikan hikmah serta nasihat untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama kedua kalinya.

Berbicara mengenai pengalaman kuliah, aku sebagai alumni yang dahulu pernah menjalani perkuliahan layaknya mahasiswa pada kampus-kampus lain. Aku adalah alumni Universitas Islam Negeri Sumatera Utara tepatnya di Fakultas Ilmu Sosial, Program Studi Ilmu Komunikasi. Selama kuliah di sini, aku mendapatkan banyak pengalaman yang berharga. Pengalaman ini membuat aku banyak bersyukur dan pengalaman ini juga benar-benar berkesan sehingga tak mampu ku lupakan. Aku ingin membagikan kisah pengalamanku di sini.

Berikut ini, pengalaman kuliah Di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara:

1. Fasilitas Yang Diperoleh


Suasana Kelas Jurusan Ilmu Komunikasi FIS UINSU


Selama menempuh pendidikan empat tahun di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, aku mendapatkan banyak fasilitas kelas dan kampus yang bisa aku dapatkan. Gedung di Fakultas Ilmu Sosial (FIS) sangat bagus. Bangunan berciri khas batu bata disertai warna hijau dan bentuk yang sangat modern membuat aku bersemangat memasuki fakultas ini. Ditambah lagi dengan warna cerah yang membuat semakin ceria dan penuh warna. Ada banyak kursi besi yang tersusun di lantai dasar. Fakultas ini memiliki tiga lantai. Biasanya mahasiswa FIS senang bercengkerama bersama teman-teman sembari menikmati Wi-Fi di Zona Wi-Fi FIS.

Zona Wi-Fi Fakultas Ilmu Sosial UINSU

Kelas bersih dan ber-AC walaupun sesekali pernah rusak dan diganti dengan kipas angin. bunga-bunga tersusun rapih di pekarangan. Di seberangnya terdapat parkir mahasiswa. Syukurnya, parkir di sini terbilang aman menurutku. Menurut pengalaman teman-temanku, ada satpam yang sering memperhatikan sepeda motor yang mahasiswa parkirkan. Jika lupa mengambil kunci dan masih tersangkut di sepeda motor biasanya akan diamankan oleh satpam.

Lantai 1 FIS Yang Terdapat Kursi

Namun, mahasiswa akan diberi pesan terlebih dahulu agar kedepannya lebih berhati-hati dalam menjaga sepeda motor yang dimiliki. Begitupun, kita juga harus tetap berhati-hati ya, sobat Pojokata. Jangan sampai lengah pada keamanan barang yang kita punya. Kita tetap harus menjaga dan memperhatiakannya ya.

Ruang Laboratorium Ilmu Komunikasi FIS UINSU

Fasilitas yang tak kalah menarik lainnya yaitu laboratorium Ilmu Komunikasi. Laboratorium ini cukup lengkap karena diisi dengan alat-alat yang dibutuhkan oleh jurusan Ilmu Komunikasi seperti mic, tempat siaran berita, papan dan perlengkapan florist, TVdan perlengkapan pendukung lainnya. Ada juga sofa yang empuk dan ruangan ini sangat bersih, tertata rapih dan nyaman serta adem dengan kesejukan AC-nya.

Diskusi Di Ruang Laboratorium Ilmu Komunikasi FIS UINSU

Ruangan ini biasanya digunakan untuk praktik berbagai bidang studi. Ada praktik reporter, penyiar berita, pembuatan video, belajar fotografi ala studio foto, belajar merangkai bunga di papan bunga, berdiskusi hingga pertemuan penting juga bisa dihadiri di ruang laboratorium ini. Setiap kelas akan kebagian jadwal untuk menggunakan ruangan tersebut. Jika ingin menggunakannya di luar jam kelas perkuliahan, mahasiswa bisa melapor kepada Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi atau kepada pihak jurusan agar diberikan kunci dan bisa disesuaikan pada jadwal yang sedang kosong agar tidak terbentur dengan mahasiswa lain yang juga ingin menggunakannya. Betah dan seru banget deh pokoknya!

2. Dosen yang mengajar

Dilihat secara keseluruhan, dosen-dosen UINSU yang sering aku perhatikan ketika duduk di halte atau berada di lingkungan kampus dan melihat dosen-dosen UINSU yang lewat bahwa dosen-dosen di sini terlihat berpengalaman. Namun, itu hanya persepsi dariku saja.




Berdasarkan pengalaman diajarkan oleh dosen-dosen pada jurusanku, Ilmu Komunikasi Konsentrasi Jurnalistik bahwa cara mengajar dosen sangat baik. Sebagian cerita yang mau aku bagikan, dosen-dosen bukan hanya memberi teori namun juga praktik. Dari mulai Fotografi, Jurnalistik, Filsafat, Budaya, dan berbagai pelajaran yang pernah diberikan lainnya, ketika disampaikan teorinya saja aku sangat menyimak dengan rasa penasaran yang tinggi. Ilmu yang diberikan merupakan ilmu yang tak banyak ku temukan di buku yang aku baca, terkadang dosen membuat materinya sendiri dan dijelaskan dengan bahasa yang sangat sederhana.

Dosen-dosen yang mengajar juga sangat friendly, dosen sangat akrab dan dekat dengan mahasiswa. Bahkan, ada dosen yang kami panggil kakak atau abang karena masih muda. Seringkali kami nongrong di kantin food court kampus bersama dosen dan teman-teman bahkan kami sering diajak nongkrong di cafe luar kampus. Tentunya, kami ditraktirin langsung oleh dosen-dosen kece itu hehe. Asik banget kan. Di kelas, dosen memperlakukan kami seperti mahasiswa dan dosen akan tetapi ketika di luar kampus, dosen memperlakukan kami seperti teman atau adik sendiri. Ini terlihat betapa lucu dan kocaknya tingkah dosen-dosen kami ketika bersama selama beberapa hari dalam kompetisi IMPACT 2018 di USM, Malaysia. Wah, profesional banget kan. Bisa menempatkan diri sesuai kebutuhannya.

Kompetisi di Malaysia, Foto Bersama Dosen; friendly.

Pengalaman dosen sesuai bidangnya membuat pelajaran ini semakin menarik. Dosen-dosen yang kebanyakan didatangkan dari orang-orang yang mempunyai latar belakang pendidikan yang sangat bagus, S2, S3, hingga Profesor. Bukan hanya itu, dosen-dosen juga mempunyai pengalaman di bidang kewartawanan, fotografer, reporter, filsafat, budaya, MC, pemasaran, dan bidang-bidang spesifik lainnya. Kalau dibilang, di dunia tersebut, dosen-dosen itu tergolong senior. Artinya, sudah lama dan memiliki jam terbang pengalaman kerja yang tinggi.

Hal ini membuat mahasiswa didorong untuk bisa praktik dunia Ilmu Komunikasi. Kami diwajibkan untuk menulis dan hasil tulisan yang bagus akan diterbitkan pada media massa baik cetak ataupun online. Praktik Fotografi di sekitar Lapangan Merdeka yakni gedung London Sumatera (Lonsum), gedung Grand Aston, dan tempat-tempat lain yang dijadikan ruang luar belajar yang mengasyikkan. Tak punya kamera bukan penghalang dalam belajar, dosen kami rela membawa kamera-kamera mahalnya dan mengizinkan kami yang pemula ini untuk menggunakannya. Aku yang pesimis, didorong untuk terus bisa.

"Ayo, coba terus. Coba lagi. Coba sendiri."

"Nah, ini sedikit lagi, coba begini. Coba begitu"

"Wahhh ini bagus ini. Udah bagus ini."

"Keren. Keren."

Kira-kira begitulah kalimat yang beliau lontarkan kepada kami. Aku masih sangat jelas cara dosen menyemangatiku dalam menggunakan kamera dengan teknik-teknik yang beliau ajarkan.


Foto Bersama Dosen Fotografi Bapak Tarmizi Harva Pada Kegiatan Lomba Fotografi

Menulis yang dahulu masih belum tersusun rapih. Setelah diajarkan oleh dosen-dosen berpengalaman, aku banyak tahu tentang cara menyusun berita, tulisan yang baik itu seperti apa, dan sedikit mulai akrab dengan menulis.

Tulisanku tentang human interest yang sudah terbit di media online mendapat respon positif dari berbagai pihak seperti dinas terkait hingga petinggi Kota Medan. Selain itu, aku pernah menjadi wartawan media online dan media cetak koran mingguan di Kota Medan. Hal ini berkat ilmu dan koreksi dari dosen-dosenku sehingga aku yang memiliki rasa kurang percaya diri ini bisa menulis dan menerbitkannya.

Selain itu, aku mulai ketagihan menulis sehingga aku mulai membiasakan diri menulis. Hingga akhirnya, aku membuat sebuah web bernama Pojokata. Dari web ini, aku menghasilkan pundi-pundi rupiah. Kalau kata-kata mutiara yang pernah aku baca di media sosial kira-kira bunyi kalimatnya seperti ini.

Pekerjaan paling menyenangkan di dunia adalah hobi yang dibayar.

Alhamdulillah, bisa mengumpulkan recehan uang dari menulis dan mengelola web. Dari wejangan-wejangan dan dorongan dosen membuat mahasiswa banyak berpikir maju.

Kalimat-kalimat luar biasa yang selalu dosen-dosen keluarkan menjadi penyemangat dan motivasi kuat bagiku. Dari situ, aku mulai belajar dan syukur Alhamdulillah mendapatkan berbagai penghargaan di bidang fotografi, menulis, hingga videografi. Semua karena ilmu dari dosen-dosen berikan kepadaku dan aku yang terus belajar untuk tetap mempraktekkan ilmu yang aku peroleh.

3. Biaya Uang Kuliah

Informasi seputar kampus tujuan menjadi hal yang wajib diketahui dari kebanyakan orang. Sebelum masuk ke dalamnya, kita biasanya mencari tahu terlebih dahulu biaya yang harus dikeluarkan bila menempuh pendidikan di sana.

Kampus yang pernah aku jalani ini, memiliki kebijakannya sendiri. Selama kuliah di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, biaya uang kuliah yang aku keluarkan senantiasa konsisten. Dari awal masuk hingga tamat, biaya kuliah SPP sebesar Rp. 2.500.000 per semester atau per 6 bulan sekali aku wajib mengeluarkannya untuk jurusan atau Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial UINSU. Sistem kami saat itu masih SPP sehingga semuanya dikenakan biaya yang sama. Tidak seperti saat ini yang sudah menggunakan sistem UKT yang artinya bahwa setiap mahasiswa dikenakan uang kuliah dengan besaran nominal yang berbeda-beda.




Namun, ada juga temanku yang mendapatkan keringanan uang kuliah dari hasil mendapatkan beasiswa bidikmisi sehingga ia tidak perlu bayar kuliah dari awal hingga akhir perkuliahan dengan mengikuti sistem yang berlaku. Ada juga temanku yang terpilih mendapatkan keringanan juga dengan UKT. Mereka hanya membayar biaya uang kuliah sebesar Rp. 400.000. Kira-kira seperti itu informasi yang aku dapatkan.


Foto Saya Ketika Menerima Beasiswa Bank Indonesia

Tak hanya itu, ada banyak beasiswa-beasiswa lainnya yang bisa mahasiswa dapatkan selama menempuh kuliah di di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara ini. Ada beasiswa Bank Indonesia, beasiswa DIPA, beasiswa tahfidz Al-Quran, beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA), beasiswa BRI, beasiswa UPZ, beasiswa Karya Salemba Empat (KSE), dan beasiswa-beasiswa lainnya. Aku sendiri mendapatkan beasiswa Bank Indonesia dan tergabung dalam Generasi Baru Indonesia (GenBI) Sumatera Utara yang memperoleh uang sebesar Rp. 12.000.000 / pertahun. Hasil uang beasiswa ini aku pergunakan untuk membayar uang kuliahku. Alhamdulillah, beasiswa benar-benar sangat membantuku.

4. Suka Duka Kuliah Di Jurusan Ilmu Komunikasi

Berbicara mengenai kuliah, pasti semua mahasiswa merasakan suka dan duka selama menempuh pendidikan S1 ini. Ada yang merasa senang bergembira hingga bersedih dan menangis terisak-isak. Semua punya kesan-kesannya tersendiri.

  • Suka
Aku sendiri punya banyak pengalaman yang menyenangkan selama kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), diantaranya mendapatkan lingkungan perkuliahan yang baik dari teman-teman, dosen, serta orang-orang yang aku kenal selama kuliah di sana. Kami saling mendukung antara satu dengan yang lain. Bahkan, dalam hal absen saja kami saling bahu-membahu, tolong-menolong, dan saling menyelamatkan teman agar tidak absen. Hihihi jangan ditiru yah.

Lingkungan yang islami sangat terasa di sini. Kelasku yang berada tepat di depan masjid Al-Izzah UINSU membuat kami semakin mudah dalam mengetahui jadwal adzan dan solat. Selain itu, ketika ada ceramah di masjid maka toak akan langsung terdengar dari fakultas sehingga sedikit banyaknya kami sering mendengar nasihat-nasihat dari Bapak Ustadz. Banyak dari teman-teman mengingatkan dan mengajak solat ketika adzan sudah berkumandang bahkan sesekali dosen yang mengizinkan untuk jeda salat.

Foto Di Gedung Aula UINSU

Bagian yang aku sangat senang juga karena UINSU mempunyai gedung aula sehingga ketika mahasiswa wisuda tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar gedung. Bagi mahasiswa yang harus mengeluarkan banyak biaya untuk make up, gaun, dan beberapa keperluan wisuda lainnya, hal tersebut sangat bermanfaat karena mengurangi beban biaya wisuda.

  • Duka
Kalau ada suka pasti juga ada duka. Tidak bisa dipungkiri semua alumni pasti punya kisah duka dibalik kesan-pesan dunia mahasiswa. Begitu juga dengan aku yang merupakan alumni Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.

Dalam hal duka, konsentrasi membuat kami yang akrab menjadi terpisahkan oleh kelas. Di UINSU terutama Fakultas Ilmu Sosial, Program Studi Ilmu Komunikasi ketika sudah berada pada semester 5, kita akan dihadapkan pada dua pilihan yang sangat penting dan hal ini menjadi penentu masa depan. Kita di beri dua pilihan yaitu memilih konsentrasi Public Relation (PR) atau Jurnalistik. Keduanya sama penting.

Gedung Fakultas Ilmu Sosial UINSU

Apa sih beda kedua konsentrasi di atas? Kalau kalian calon mahasiswa Ilmu Komunikasi UINSU wajib banget tahu informasi penting ini. Biar ketika sudah memilih, kalian tidak akan merasa menyesal karena pilihan konsentrasi yang sudah sesuai dengan minat dan bakat yang kalian miliki. Pilih Public Relation Atau Jurnalistik? Dua Konsentrasi Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Yuk, langsung dibaca biar gak nyesel.

Aku yang sangat kompak dengan teman sekelas, ketika sudah memilik konsentrasi maka harus pisah. Aku memilih konsentrasi Jurnalistik dan ada juga beberapa temanku yang memilih konsentrasi public relation. Antar PR dan Jurnalistik tidak bersebelahan kelas. Sehingga, perpisahan begitu terasa. Ceileh, ngomong apaan aku ini ya. Terlalu mendramatisir kayak ta wkwk. Tapi hal ini tidak membawa kesedihan yang mendalam kok hihi. Alhamdulillah jurusan kami tetap kompak meskipun terbagi menjadi dua konsentrasi. Kami tetap menyambung komunikasi dan silaturrahim antara satu dengan yang lain. Ya, namanya juga anak Komunikasi hehe.

Pilihan tak menjadi masalah demi masa depan dan cita-cita bersama. Bener gak? Ya, bener kan hihi. Semua demi minat dan bakat yang kita punya. Semua demi keinginan dan arah passion yang kita mau.

Cerita lainnya yaitu kami tak memiliki senior. Sebagai angkatan pertama, aku yang kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi bisa dibilang anak pertama. Fakultas Ilmu Sosial baru berdiri pada saat aku mencoba kuliah di UINSU. Yang artinya, Prodi Ilmu Komunikasi dalam naungan Fakultas Ilmu Sosial sehingga fakultas dan jurusan sama-sama baru. Di satu tahun pertama kuliah, tak ada senior sehingga kami sulit untuk bertanya perihal kampus. Seperti mahasiswa pada kampus lain yang bisa bertanya tentang perkuliahan, kami tak merasakan hal yang sama. Kalau ingin tahu tentang kampus, aku dan teman-temanku biasanya bertanya langsung pada dosen.

Jika ingin mengetahui informasi dari kakak senior, sebenarnya bisa juga bertanya pada kakak-kakak kelas dari fakultas lain. Namun, semua hal tersebut membutuhkan proses yang lama karena tidak semua mahasiswa berani mengajak kenalan dan tidak semua mahasiswa mau. Seperti halnya denganku, aku adalah tipe mahasiswa pemalu. Sehingga, aku memilih diam dan tak mencari tahu senior-senior yang bisa diajak kenalan dan bertanya. Dan tak ada kakak senior yang aku kenal baik dari tetangga ataupun kerabat. Hal ini membuat aku tak tahu banyak tentang kampus pada awal-awal perkuliahan.

Angkatan Pertama Ilmu Komunikasi 2015 UINSU

Angkatan pertama yang seperti anak pertama, harus mandiri dan memberi contoh. Mandiri dalam mencari tahu informasi maupun dunia organisasi serta memberi contoh yang baik pada juniornya. Setelah satu tahun perkuliahan, tentu kami mempunyai adik kelas atau junior. Junior yang masih baru berkuliah sehingga banyak bertanya perihal kampus itu seperti apa. Kami yang hendaknya memberi tahu informasi dan memberi contoh yang baik pada junior di jurusan. Kami seperti punya tanggung-jawab dalam membimbing junior di sini.

5. Budaya Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial UINSU

Berbicara perihal budaya. Ada sifat-sifat, perilaku, dan hal-hal yang dilakukan dengan kurun waktu panjang serta berulang-ulang sehingga membuat hal tersebut menjadi budaya. Seiring berjalannya waktu, budaya itu melekat dan membuat orang menyebutnya budaya.

"Budaya mahasiswa Ilmu Komunikasi tuh seperti ini... Seperti itu..."

Tanpa diberitahu, mahasiswa bersangkutan hingga orang-orang luar sudah melabelkannya sebagai budaya dari mahasiswa Ilmu Komunikasi UINSU. Tak usah dijelaskan, orang-orang sudah melabelkannya sebagai budaya baik dari mahasiswa tersebut.

Gaya Berpakaian Mahasiswa Ilmu Komunikasi FIS UINSU

Peraturan fakultas bahwa setiap Mahasiswi hendaknya menggunakan rok membuat aku yang dahulunya sebelum kuliah di sini terbiasa menggunakan celana atau jeans namun diharuskan memakai rok. Awalnya aku merasa terpaksa. Rasanya ingin menolak dan mengeluhkan ketidak bolehan menggunakan rok namun seiring berjalannya waktu, akupun terbiasa menggunakan rok bahkan dalam kegiatan sehari-hari meskipun tidak ke kampus. Membuat wanita semakin terlihat anggun dengan kebiasaan menggunakan rok. Rok ini juga jadi ciri khas mahasiswa UINSU. Budaya menggunakan rok ini tentunya juga menjadi ciri khas mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.

Kalau kalian datang ke sini pasti akan melihat banyak perempuan-perempuan yang memakai pakaian Syar'i dan jarang sekali menemukan perempuan memakai celana. Kebanyakan dari teman-teman ku yang bukan mahasiswa UINSU menyampaikan kesan pertamanya setelah berkunjung ke kampus hijau tersebut.

"MasyaAllah..."

"Wihhh luar biasa kali perempuan-perempuan di sini"

"Luar biasa ukhti-ukhti UINSU ini ya..."

"MasyaAllah, mau lah punya istri kekgitu..."

"Eh, banyak yang bercadar juga di sini ya. Aku terkejut karna aku jarang liat perempuan bercadar di luar"

"Luar biasa kali anak UIN ini ya. Syar'i-syar'i kali pakaiannya. Segan aku kalo ke sini. Tau lah pakaianku kek mana, aku sering pake-pake celana kek gini"

"Carikkan lah aku cewek anak UIN 1"

Banyak sekali kalimat-kalimat terkejut yang teman-teman keluarkan. Ketika memasuki lingkungan UIN, di depan gerbang masuk kita akan disambut dengan pamflet bertuliskan "wajib berbusana muslim". Nah, artinya semua yang datang menggunakan hijab. Kemudian, orang-orang yang berlalu lalang dan duduk di halte memberi ciri khas mahasiswa UINSU sekali karena pakaian yang mereka kenakan.

Foto Mahasiswa Ilmu Komunikasi FIS UINSU

Selain itu, sebagai angkatan pertama kami juga wajib memberi contoh yang baik dari mulai cara berkomunikasi, berpakaian, hingga bertingkah-laku. Ini akan menjadi budaya yang akan turun-temurun dicontoh, diwariskan, dan kebiasaan bagi mahasiswa di fakultas ataupun jurusan.

Betapa tidak, banyak kebiasaan-kebiasaan yang kami ciptakan seperti membuat baju seragam kompak untuk satu jurusan, membuat slogan "The Pioneer of Revolution". Kata ini diucapkan setelah salah seorang melantangkan suaranya. "Salam Komunikasi..." Kemudian seluruh mahasiswa Ilmu Komunikasi UINSU akan menjawab dengan suara tegas, "The Pioneer of Revolution!" beserta mengacungkan tiga jari yakni jempol, telunjuk, dan jari tengah secara bersamaan.

Ada juga pelaksanaan Gebyar komunikasi 1.0. Saya mengambil peran di sana sebagai sekretaris panitia. Hal ini juga berlanjut pada tahun berikutnya, seperti Gebyar komunikasi 2.0, 3.0, dan seterusnya. Begitu juga dengan Festival Film yang diadakan mahasiswa Ilmu Komunikasi setahun sekali.

Foto Bersama Pada Acara Yang Dibuat Oleh Mahasiswa Ilmu Komunikasi

Masih banyak budaya-budaya lainnya yang sudah menjadi kebiasaan yang terus-menerus dilakukan. Kebiasaan baik yang harus terus dilakukan secara berkesinambungan tentu tidak ada ruginya bahkan semestinya terus diterapkan hingga turun-temurun. Tapi, bagi kebiasaan buruk tak sepatutnya melekat sehingga setiap mahasiswa harus meninggalkan dan membuang hal-hal buruk tersebut. Biarkan hal baik melekat seolah menjadi ikon dan biarkan hal buruk terkikis hingga ke akar-akarnya.

Wah, ternyata panjang sekali ya cerita pengalaman kuliah di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dari aku. Semoga tulisan ini bermanfaat buat kalian yang mau mencoba berbagai jalur ujian masuk ke UINSU ya. Bisa jadi acuan apakah jurusan ini cocok sesuai dengan keinginanmu berdasarkan pengalaman yang aku bagikan di sini.

Buat kalian yang sudah pernah atau bahkan sedang menjalani kuliah di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara gimana nih cerita pengalamannya? Kesan dan pesan apa yang kalian dapatkan di UINSU? Hal-hal dan cerita apa saja yang sudah kalian kenang? (Kenangan sama si dia mungkin hihi).

Bagikan ceritamu juga dikolom komentar ya. Aku kepo juga nih hehe. Oiya, buat kamu yang sudah membaca cerita ini sampai habis, gimana nih menurut kamu pengalaman kuliah di UINSU dari aku? Kira-kira ada yang ingin kamu sampaikan? Komentar di bawah ya, sobat Pojokata.

Penulis: Tri Ayu Andani Nasution

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Pengalaman Kuliah Di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel