Bahu-membahu Lawan Covid-19 di Masa New Normal

 Oleh : Saiful Aswad 

Semua warga negara pasti berharap agar wabah Covid-19 segera berlalu. Orang-orang pasti menginginkan kehidupan normal seperti sebelum munculnya Covid-19 di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat ini agar tidak ada lagi pembatasan gerak sosial dan perubahan drastis dalam setiap aktivitas. Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk sosial. Seperti kata Aristoteles yakni Zoon Politicon yang berarti bahwa manusia adalah makhluk yang bermasyarakat dan membutuhkan interaksi antara satu dengan yang lain, karena manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan manusia lainnya.

Begitu juga halnya dengan munculnya Covid-19 yang memberikan dampak di beberapa sektor kehidupan bermasyarakat, salah satunya sektor kehidupan ekonomi. Dampak yang terjadi bagi pekerja tetap yang menerima gaji bulanan dalam jumlah yang cukup banyak, bekerja di rumah menjadi tidak begitu mengkhawatirkan. Namun, bagi pekerja harian, buruh lepas, dan pekerja dengan gaji yang sangat minim, di rumah saja menjadi momok yang sangat menakutkan. Sebab, pendapatan hanya berharap dari gaji yang diperolah perhari.

Hakikat manusia sejatinya homo economicus yang berarti bahwa manusia akan berusaha mencari sesuatu agar kebutuhannya dapat terpenuhi. Begitu kata seorang ahli ekonomi bernama Adam Smith. Jika dilihat dari sisi lain, setiap orang harus melaksanakan protokoler kesehatan diantaranya dengan tidak berkumpul dan menjaga jarak antar satu dengan yang lain sebagai langkah dalam melawan penyebaran virus Covid-19. Di satu sisi masyarakat harus memenuhi kebetuhannya dengan bekerja di luar rumah sedangkan di sisi lain masyarakat tengah menghadapi wabah Covid-19.

Banyak dari masyarakat yang sudah tidak sabar ingin menjalani hidup normal seperti sebelum Covid-19 muncul. Orang-orang sudah tidak sabar menyambung silaturrahmi secara langsung dan berjabat tangan dengan kerabat-kerabatnya. Terlebih lagi, momen berkumpul dengan teman-teman dan keluarga besar di hari kemenangan seperti idul fitri dan idul adha sudah terlewatkan tanpa berkumpul dengan mereka semua. Inilah realita yang harus kita terima, pasti tidak ada yang pernah menginginkan kehadiran Covid-19. Walaupun semua orang membutuhkan kehidupan bermasyarakat dan membutuhkan interaksi antara satu dengan yang lain namun kita tetap harus bersabar untuk tetap menunda berkumpul di tengah wabah ini.   

Kunci Melawan Covid-19

Setiap mendapat ujian, kuncinya ialah kesabaran. Jika kita tidak sabar menerima ujian kehadiran Covid-19 ini maka kita akan menjadi bagian dari korban yang berjatuhan. Seperti firman Allah SWT. Dalam Al Quran Surah Al Baqarah ayat 155 yang artinya:

“Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”.

Selain ayat di atas, kita bisa belajar dari kisah kesabaran Nabi Ayub As ketika diuji oleh Allah SWT. selama delapan belas tahun diuji dengan penyakit namun beliau tetap sabar. Dalam Quran Surah Al Anbiya ayat 83-84 juga mengisahkan mengenai kesabaran Nabi Ayub, yang artinya:

“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” Maka kami pun memperkenalkan seruannya itu, lalu kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmatdari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah”.

Kemudian setelah Nabi Ayub sabar dalam menghadapi ujian yang diberikan dengan berbagai penyakit akhirnya penyakit yang ada di tubuhnya pun hilang. Kesembuhan menjadi miliknya dan kehidupan kembali seperti sedia kala. Kita bisa menjadikan kisah Nabi Ayub sebagai pelajaran untuk tetap bersabar di tengah cobaan adanya Covid-19 ini dalam kehidupan bermasyarakat.

New Normal dan Antisipasinya

Berbulan-bulan menghadapi kondisi wabah, berbagai sektor harus dipulihkan kembali meskipun jumlah kasus Covid-19 terus meningkat. Pada akhirnya kita akan memasuki masa new normal atau kenormalan baru dalam kehidupan bermasyarakat dan akan dilaksanakan bertahap dalam lingkup nasioanal. Melansir dari situs Berita Satu bahwa penerapan new normal akan dilaksanakan secara bertahap, tidak serempak di 514 kabupaten/kota di Indonesia. Di Medan sendiri, tengah menghadapi new normal. Ini terlihat dari pusat perbelanjaan, rumah ibadah, wisata mulai dibuka kembali. Tentunya, kita semua mendukung kebijakan ini. Di tengah aturan dari pemerintah ini tentunya kita tetap harus menjaga jarak, memakai masker, memasuki ruang-ruangan kantor dengan mencuci tangan maupun menggunakan hand sanitizer, rajin mencuci tangan di manapun berada, menjaga kesehatan dan kebersihan diri serta lingkungan, dan pastinya menjaga jarak aman antara satu orang dengan yang lainnya.

New Normal jangan sampai membuat kita lengah terhadap aturan protokoler yang sudah disosialisasikan pemerintah. Betapa pentingnya mengikuti aturan pemerintah dengan menjaga diri sendiri dan orang lain untuk tetap bersabar, jangan bersalaman atau berkumpul padat-padatan sebelum wabah Covid-19 ini berakhir. Masih banyak masyarakat yang apatis dan belum sadar akan pentingnya protokoler kesehatan dalam melawan Covid-19. Masih banyak kita jumpai di tempat-tempat perbelanjaan maupun toko yang menjajakan barang dagangannya dan melihat pengunjung masih belum mengenakan masker dan tidak menjaga jarak. Semestinya sebagai warga negara bahu-membahu melawan wabah ini agar segera berakhir. Kesadaran warga negara untuk tetap patuh terhadap aturan yang sudah diberlalukakan adalah kunci utama keberhasilan melawan penyebaran Covid-19.

Sebagai warga negara, kita juga sebaiknya bersama-sama mengingatkan, mengedukasi, dan mengkampanyekan pentingnya protokoler kesehatan. Apabila melihat orang-orang tidak memakai masker di depan mata kita sebaiknya menegurnya agar memakai masker. Di mulai dari yang terdekat, bisa menerapkannya untuk keluarga sendiri hingga secara berantai dalam lingkup yang luas lagi. Sehingga, dampaknya akan banyak dirasakan oleh masyarakat luas.

Sangat dibutuhkan kesabaran, kepedulian, dan kesadaran hukum seluruh warga negara dalam memperbaiki salah satunya di sektor ekonomi. Kebijakan new normal tentu sangat membantu perekonomian para pekerja harian, buruh, dan karyawan yang digaji dengan upah minim sehingga mereka dapat bekerja meskipun tengah melawan new normal. Dengan mematuhi protokoler kesehatan maka keinginan berakhirnya wabah Covid-19 akan segera terwujud. Kita sama-sama ingin Covid-19 ini tidak berlarut-larut. Untuk itu, seluruh warga negara harus bahu-membahu sehingga kita bisa sama-sama sadar akan bahaya Covid-19 minimal dimulai dari diri sendiri, peduli dengan mengingatkan orang terdekat, hingga meluas diterapkan oleh seluruh masyarakat. Dan yakinlah, jika semua aturan sudah dipatuhi maka wabah Covid-19 akan berakhir. 

*Penulis merupakan mahasiswa program studi Hukum Ekonomi Syariah yang sedang melaksanakan KKN DR UIN-SU , Kelompok 42

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Bahu-membahu Lawan Covid-19 di Masa New Normal"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel