Menyikapi Wabah Covid-19 dari Sudut Pandang Islam


Oleh : Krismonica Agustina

Setiap manusia tentu saja pernah merasakan rasa sakit, baik penyakit level rendah hingga level tertinggi. Berbagai jenis penyakit pun kerap ditemukan dari tahun ke tahun, bahkan penyakit yang bisa jadi di luar nalar manusia. Penyakit fisik dapat digolongkan menjadi dua jenis yaitu penyakit fisik permanen (akut) dan penyakit fisik yang bersifat konduktif.  Penyakit konduktif  yaitu penyakit yang timbul akibat adanya unsur materi berbahaya yang masuk ke dalam tubuh, yang menyebabkan raga terjangkit penyakit akut atau penyakit yang timbul akibat kejadian (peristiwa tertentu) yang menyebabkan rasa jatuh sakit, seperti halnya wabah Covid-19 yang tengah meresahkan penduduk bumi.

Berdasarkan hal tersebut, sangat penting untuk kita menjaga kesehatan bagi tiap individu, disamping menjaga pola hidup sehat seperti rajin berolahraga, mengkonsumsi makanan sehat,  serta salah satu hal penting lainnya yaitu menjaga jiwa dan raga agar tetap dalam koridornya, sehingga meningkatkan daya imun yang tinggi. Hal itu dapat dilakukan dengan salah satu cara, yaitu mengamalkan dan mematuhi nilai-nilai agama dalam aktifitas kehidupan sehari-hari, adanya hubungan antara agama sebagai pijakan keyakinan serta kesehatan rohani jasmani terletak bagaimana seorang hamba berserah diri terhadap suatu kehendak atas kekuasaan Allah SWT. Sehingga, sikap itulah yang membuat seseorang dapat menciptakan aura positif pada diri sendiri, dan ketentraman lahir batin.

Islam telah mengajarkan cara memelihara kesehatan ala Nabi Muhammad Saw., yaitu dengan menjaga kebersihan. Jika dokter modern memiliki motto bahwa kebersihan adalah pangkal kesehatan, maka islam memiliki semboyan yang lebih tinggi maknanya yaitu “Kebersihan bagian dari keimanan”. Seolah-olah perilaku hidup yang tidak bersih adalah cerminan dari kurangnya nilai iman dalam diri seseorang. Nabi juga mengajarkan untuk mengonsumsi makanan yang bervariasi, “Makanlah kalian berbagai macam makanan, karena sesungguhnya bila makanan yang satu panas maka bisa dipadamkan oleh makanan lain yang dingin “, cara lainya yaitu mengerjakan shalat wajib sehari 17 rakaat yang memberikan format 119 postur fisik, atau 3570 postur setiap bulanya atau 48.840 postur setiap tahunya. Gerakan ini juga bertambah apabila seorang muslim melakukan sholat sunnah tambahan lainya seperti sholat Duha, Rawatib, Tahajud dan Tahiyatul Masjid, maka minimal ia melakukan 400 gerakan postur fisik setiap harinya.

Beberapa bulan belakangan wabah Covid-19 yang telah menyebar luas ke seluruh pejuru dunia, mengubah hampir seluruh aktifivitas rutin yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, tak terkecuali dalam hal ibadah yang sempat menjadi kontroversial antara pemerintah dan masyarakat Indonesia. Banyak pasien positif yang terjangkit di Indonesia dan banyak pula pasien positif yang gugur melawan virus Covid-19 tersebut. Virus ini tidak melihat usia serta  latar belakang sosial, untuk itu berbagai upaya pengobatan pun dilakukan. Landasan berobat dalam Islam, seperti dalam Al-Quran yang memerintahkan untuk bertobat di kala ia sakit. Dalam beberapa ayat, Allah menyebut kata syifa untuk menunjukan kata pengobatan, seperti terdapat dalam surah Yunus 10;57 yang artinya :

 Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Dari kata syifa yang ada di dalam Al-Quran terkandung tiga makna yang berkaitan dengan pengobatan. Pertama, bahwa Allahlah yang menyembuhkan segala penyakit yang ada di dalam dada manusia, Khususnya manusia beriman. Kedua, makanan dan minuman serta perbuatan dapat menjadi obat penyakit yang diderita oleh manusia. Ketiga, Al-Quran sendiri menjadi obat bagi orang yang sakit.

Hal tersebut diperkuat dengan hadist Nabi Muhammad SAW, di antaranya :

“Bagi tiap-tiap penyakit ada obatnya, apabila obat sesuai dengan penyakit itu, sembuhlah ia dengan izin Allah Azza Wa Jalla”

        Dalam pandangan Islam, selain manusia memiliki kemampuan sendiri dalam mengembangkan pengobatan, juga didasarkan kepada perintah dari Allah Swt agar manusia ketika sakit hendaknya berobat, seperti tertera pada QS. Asy-Syu’ara, (26) : 79-80 sebagai berikut :

“Dan hanya dia yang memberi aku amakan dan memberi aku minum dan apabila aku sakit, maka hanya dia yang menyemuhkan aku”

Pemerintah melakukan upaya pencegahan dan berharap masyarakat dapat mengikutinya demi kelangsungan hidup bersama. Seperti diberlakukannya social distancing, PSBB dan lainya, sesuai dengan anjuran dan pedoman medis yang dikeluarkan oleh WHO.

Banyak masyarakat menganggap, segala urusan hidup dan mati hanya di tangan Allah Swt, tanpa ada usaha untuk menyembuhkan dan menyepelekan Virus Corona yang sedang mewabah saat ini. Pemikiran yang salah ini ditepis oleh hadist Rasulullah SAW :

“Berobatlah kalian, maka sesungguhnya Allah Taala tidak mendatangkan penyakit kecuali mendatangkan juga obatnya, kecuali penyakit tua”

Hadist tersebut membuktikan bahwa berserah diri tanpa berikhtiar adalah hal yang salah. Hal tersebut ditanggapi oleh Ustadz Abdul Somad, bahwa perilaku seperti itu terdapat unsur kesombongan di dalamnya. Kita sebagai Ahlul Sunah Wal Jamaah, harus berikhitar, kalau tetap terjadi kita beriman kepada rukun iman keenam takdir baik dan takdir buruk, tapi sebelum itu harus ada ikhtiar dan usaha itu adalah sunnah. Ustadz Abdul Somad menegaskan bahwa dalam beragama harus menggunakan ilmu, bukan ikut perasaan.

Kita tahu bahwa dua wajah paradok islam dalam menghadapai wabah terdapat dua wajah paradok dengan mengikuti catatan ahli agama dari AS Michael Dols. Mahzab pertama yaitu memahami wabah sebagai ketentuan teologis, takdir yang tdak bisa ditolak. Umat Islam harus memperbanyak amal ibadah, berdoa, dan tak lupa pula berobat sebagai tanda ikhtiar. Mahzab kedua memahami wabah sebagai kenyataan empiris yang menuntut ikhiar untuk mengatasinya. Di samping itu umat islam wajib melakukan upaya maksimal untuk mencari keselamatan. Dari hal inilah lahir seorang Ibnu Sina yang masyhur memiliki keahlian dalam penanggulangan wabah

Paradoks Islam pun merebak menjelang Lebaran. Meski akhirnya dilarang, jutaan orang tetap nekad mudik lebaran. Kasus Covid-19 pasca lebaran pun akhirnya melonjak pesat, terutama di Jawa. Bagi umat muslim, lebaran sebagai momen agama-budaya penting yang diadakan setahun sekali karena memberikan pengaruh psikologis, sosiologis bahkan dalam ekonomi. Itulah sebabnya meskipun dilarang, banyak umat muslim yang nekad untuk mudik.

Fenomena lainnya saat sebagian Muslim di Indonesia sempat percaya bahwa air wudhu bisa mencegah coronavirus. Namun di sisi lain dalam keadaan kritis ini, agama menjadi kekuatan spiritual bagi setiap umat serta berkhtiar maksimal menghindari wabah. Selain itu, lembaga, pemuka, dan komunitas agama Islam punya peran sangat besar dalam penanggulangan wabah ini, berkat himbauan serta sosialisasi dari setaip perwakilan. Hal ini menjadi bukti keterbukaan agama terhadap perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi.

Islam mengajarkan bahwa perjuangan menyelamatkan nyawa seperti dilakukan para tenaga medis adalah suatu jihad dan mereka yang meninggal karena wabah dianggap mati syahid sesuai hadist Nabi. Bukti nyata pada masa kriris pandemi ini adalah perjuangan seorang Dokter dan tenaga medis lainya. Banyaknya tenaga medis yang meninggal membuat sebagian masyarakat terenyuh akan perjuangan mereka menghadapi bahaya yang kapan saja dapat membahayakan kesehatan bahkan mengancam jiwa mereka.

Melonjaknya pasien positif corona membuat pertahanan para tenaga medis kian memudar dan mulai mengeluh kepada msyarakat yang tidak menghiraukan himbauan dari pemerintah untuk menerapkan social distancing. Banyak para tenaga medis yang mengkritik sikap masyarakat yang meremehkan wabah Covid-19 ini, hingga terjadilah peningkatan yang drastis terkait jumlah pasien Covid-19 dan jumlah kematian akibat wabah ini. Hal ini menarik perhatian Australia yang mengkritik keras terhadap pemerintah Indonesia dalam menangani pandemi virus coronavirus. Indonesia bahkan disebut akan menjadi hotspot atau pusat wabah Virus tersebut di dunia.


*Penulis merupakan mahasiswi program studi Ilmu Komunikasi yang sedang melaksanakan KKN DR UIN-SU, Kelompok 78

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Menyikapi Wabah Covid-19 dari Sudut Pandang Islam"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel